
Ilustrasi Qadha Puasa Ramadhan (Freepik)
JawaPos.com - Sebelum memasuki bulan Ramadhan 2025, sebaiknya kita perlu mengingat apakah pada puasa 2024 atau puasa bulan Ramadhan tahun-tahun lalu tidak memiliki utang puasa?
Seperti yang kita ketahui bahwa puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya bagi umat muslim.
Bahkan, jika tidak berpuasa kita wajib menggantinya sebelum bertemu dengan puasa Ramadhan selanjutnya.
Apalagi bagi perempuan yang harus terpotong ibadah puasanya karena menstruasi, mereka tetap harus membayar hutang puasa sesuai dengan puasa yang ditinggalkannya.
Qadha memiliki arti menggantikan atau memenuhi kewajiban yang tertunda. Puasa qadha tidak jauh berbeda seperti puasa bulan Ramadhan, hanya terletak pada niatnya saja.
Pada artikel ini akan membahas mengenai niat puasa Qadha dan cara mengerjakannya, dikutip dari Baznas pada Senin (6/1), yaitu:
“Nawaitu shauma ghodin ‘an qadaa’i fardhi syahri romadhona lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadhan lillahi ta'ala.”
Syarat diwajibkannya mengqadha puasa Ramadhan apabila orang yang sanggup berpuasa tapi terdapat kegiatan yang menghalangi sesuai ketentuan Allah SWT, seperti sakit, menstruasi atau haid, hamil dan menyusui, lansia, perjalanan jauh atau musafir, dan masa nifas.
Cara Berpuasa Qadha
Melaksanakan puasa qadha bulan Ramadhan wajib hukumnya. Rukun syarat puasa juga sama. Kamu perlu mengganti puasa sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan saat puasa Ramadhan.
Dikutip dari megasyariah.co.id pada Senin (6/1), pada saat bulan Ramadhan tidak puasa sebanyak 5 hari, maka wajib mengganti atau qadha puasa sebanyak 5 hari juga. Apabila kamu lupa berapa jumlah hari pasti meninggalkan puasa, maka dapat mengambil jumlah lebih banyak dari puasa yang ditinggalkan.
Selain itu, dianjurkan atau disunnahkan mengqadha puasa secara berurutan. Tapi, jika memang tidak bisa, boleh sesuai kemampuan masing-masing. Niat puasa qadha dapat dibaca saat hendak sahur atau di malam hari.
Wajib hukumnya mengganti hutang puasa Ramadhan sesegera mungkin. Apabila sengaja ditinggalkan, maka akan mendapatkan dosa. Dalam hukum Islam juga dijelaskan bahwa puasa qadha tidak boleh dibatalkan kecuali terdapat udzur sesuai syariat.
