
Ilustrasi seorang muslim sedang berdoa agar tak mudah lupa.
JawaPos.com - Nabi Ayub AS adalah salah satu dari 25 nabi yang wajib umat Islam ketahui. Dia adalah seorang nabi yang tabahnya paling luar biasa. Bagaimana tidak? Dirinya dijangkiti penyakit kulit yang langka selama bertahun-tahun, namun beliau tetap bersabar.
Nabi Ayub adalah cucu dari nabi Ishaq AS, yang membuat dia menjadi cucu dari nabi Ibrahim AS. Nabi Ayub sebelum terkena penyakit adalah orang yang kaya raya dan tak pamrih, walaupun hidupnya dipenuhi harta dan sejahtera, ia tidak pernah lupa kepada Allah SWT yang memberinya itu semua, ia juga gemar bersedekah dan karena ini para malaikat memujinya.
Hal ini membuat Iblis menjadi dengki kepada dirinya, ia tidak suka apabila ada orang yang begitu sholeh. Suatu ketika Iblis meminta izin kepada Allah untuk menguji kesetiaan hamba-Nya. Iblis mencoba membuat iman nabi Ayub goyah, agar ia pergi ke jalan yang sesat dan dimurkai Allah, tetapi Iblis tidak berhasil.
Tidak berhenti di situ, ia dan para pembantunya kemudian mulai menyerbu keimanan Nabi Ayub, mula-mula mereka membunuh semua ternak, kemudian mereka merusak kebun Nabi Ayub, dan juga membakar semua harta kekayaan beliau.
Namun Nabi Ayub dan anak istri beliau, tetap rajin beribadah dan tidak pernah mengeluh, mereka semua menerima takdir dengan ikhlas. Iblis dan para pembantunya kemudian mendatangi putra dan putri Nabi Ayub di rumah, mereka menggoyang-goyang tiang rumah, sehingga roboh dan semua anak Nabi Ayub meninggal dunia.
Iblis mengira usahanya sudah berhasil, menggoyahkan keimanan Nabi Ayub AS, karena Nabi Ayub sangat menyayangi Putra dan putrinya itu, meskipun Nabi Ayub merasa sedih juga menangis atas kelihalannya, tetapi jiwa dan hatinya tetap kuat dan selalu sabar, juga memiliki keyakinan bahwa jika Allah SWT yang Maha Pemberi berkehendak, maka tidak ada seorangpun yang mampu menghalanginya.
Iblis pun tidak patah semangat, Iblis kemudian menaburkan penyakit pada sekujur tubuh Nabi Ayub, sehingga Nabi Ayub menderita penyakit kulit yang amat menjijikan. Semua tetangga dan orang sekitar menjauhinya, karena takut tertular.
Mereka menginginkan Nabi Ayub segera pergi, meninggalkan lingkungan mereka. Maka Pergilah Nabi Ayub dan Rahmah istrinya ke sebuah tempat yang jauh dari pemukiman manusia. Penyakit Nabi Ayub sudah bertahun-tahun tak kunjung sembuh, namun Nabi Ayub tetap bersabar.
Pada akhirnya, dengan keyakinan dan kesabaran, penderitaan yang dialami Nabi Ayub akhirnya usai setelah ia memanjatkan doa yang kini di telah diabadikan dalam QS Al-Anbiya’ 83.
رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Artinya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
Kesabaran dan kesantunan dalam doa Nabi Ayub agar sembuh dari penyakit tersebut kemudian didengar oleh Allah SWT. Kisah ini tercantum dalam surah Al Anbiya ayat 84 yang berbunyi,
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
Artinya: "Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami,"
