
ISTIMEWA: Arwana Super Red ikan air tawar asli Indonesia yang mempesona Karena warna merah yang berkilau berumur 3 tahun. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Soal citra arwana sebagai ikan mahal, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tubuhnya yang ramping tapi gagah, ditambah gerak-geriknya yang anggun, telah lama mencuri perhatian penggila ikan hias. Salah satu yang tak pernah redup pamornya sejak bertahun-tahun lalu adalah super red.
---
Sensasi yang diburu dan dihargai mahal dari super red adalah mutasi warna merah pada beberapa bagian tubuh kala ikan beranjak dewasa. Gradasi merah pada sirip, bibir, dan ekornya membuat ikan dari pedalaman Kalimantan Barat itu terkesan elegan.
Penghobi super red Yacop Mantalik mengungkapkan, ketika ikan semakin dewasa, warna merah di sekujur tubuhnya akan bertambah membara. Merahnya muncul di berbagai bagian tubuh lainnya, terutama pada cuping insang dan pinggiran sisik. Dengan begitu, sekujur tubuh ikan merona merah.
”Makanya, saya jatuh cinta sama ikan itu (super red) sejak SMP. Kalau tidak salah pada 1992,” kenangnya. Baru pada 1996, dia bisa memiliki super red berukuran 60 sentimeter. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Sejak saat itu, hatinya tertaut pada ikan khas Sungai Kapuas dan Danau Sentarum tersebut.
Ketika ditemui di rumahnya di kawasan Perumahan Royal Residence, dia memperlihatkan sembilan akuarium yang isinya rata-rata arwana super red. Mulai anakan hingga yang sudah berukuran jumbo. Paling kecil 15 sentimeter.
Di sela obrolan, Yacop menjelaskan bahwa habitat asli super red adalah hutan gambut. Kandungan mineral dan melimpahnya cadangan pangan ikut memengaruhi mutasi warna pada tubuh ikan tersebut.
Selain itu, pengaruh geografis turut menyebabkan terbentuknya postur ikan yang lebih lebar dan kepala menyerupai sendok. Warna merah yang lebih ngejreng dipadu warna sisik yang lebih pekat membuat super red menyala. ”Nah, kalau dipelihara dengan benar, ikan pasti bertambah sip,” tuturnya. Agar ikan bisa berkembang dengan baik, kondisi akuarium harus dibikin nyaman. Misalnya, aerator harus stabil. Filter berlapis untuk memastikan air tetap jernih. Ditambah pencahayaan yang pas dan ketersediaan pakan.
Diperlukan juga ’’teman’’ di dalam akuarium untuk menjaga mental ikan agar tetap prima. Teman yang dimaksud adalah ikan yang masih satu keluarga dengan arapaima itu. Di antaranya, ikan parrot dan sapu-sapu hias.
Yang membuat ketua Arwana Club Surabaya (ACS) tersebut terkesan adalah nilai ikan itu terus meroket. Apalagi jika sukses dirawat dengan baik. Proses tidak akan mengkhianati hasil. Pada 2018, salah satu super red miliknya berukuran M pernah menjuarai kategori Young Champion. ”Beruntung bisa laku ratusan juta,” ungkapnya.
Arus Buatan Melatih Perkembangan Ikan
TAK hanya memelihara ikan berukuran 30–60 sentimeter itu, Yacop juga membudidayakan 14 ekor super red 15–18 sentimeter. Dibutuhkan perlakuan khusus dalam menangani super red mini itu. Salah satunya, menciptakan suasana akuarium yang semirip mungkin dengan habitat aslinya.
Caranya, memasang aerator dengan ditidurkan atau horizontal. Pemasangan tersebut akan menciptakan gelombang arus di dalam akuarium. Mirip arus sungai di tempat tinggal asli super red. ’’Ini khusus untuk mereka (arwana kecil 15–18 sentimeter). Kalau yang sudah besar, nggak usah,’’ tuturnya.
Photo
BIBIT UNGGUL: anakan arwana super Red berumur 6 bulan dengan panjang 15 cm yang masih berwarna silver dijadikan satu dalam aquarium. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Hal itu dilakukan agar super red kecil lebih mudah beradaptasi. Sebab, arwana merupakan ikan perenang atas alias surface feeder. ’’Itu tampak dari bentuk mulut,’’ jelas Yacop. Nah, di alam lepas, mereka berenang di dekat permukaan air untuk berburu mangsa.
Mayoritas untuk arwana super red, Yacop menyediakan akuarium dengan ukuran panjang 150x75x60 sentimeter. Tujuannya, mempermudah gerak super red kecil. Juga, masih cukup untuk diisi arwana berukuran 60 sentimeter.
Meski warna tubuhnya belum terlihat merah, super red sudah bisa dikenali dari warna metalik di pipinya. ’’Kalau masih kecil memang silver. Tapi, lagi-lagi, tergantung gen dan perlakuan kita terhadap ikan. Pernah kok dari silver langsung pink,’’ terangnya.
