
BURUNG FIGHTER: Moch Hasan membuka kerodong sangkar Sincan. Rentetan tembakan Sincan membuat para kicau mania terpukau. (Robertus Risky/Jawa Pos)
BERISIK, tapi asyik. Kadang juga bikin telinga sakit. Terutama saat Sincan mengeluarkan suara rentetan ”tembakan” dari paruh hitamnya. Sincan satu ini memang bukan tokoh kartun Jepang. Melainkan nama murai batu Sumatera milik Moch. Hasan, salah seorang penghobi murai batu di kawasan Rungkut.
Usia Sincan baru setahun. Masih tergolong muda untuk ukuran murai batu. Tapi, kemampuannya berkicau sudah bikin bangga sang pemilik. Ia mampu menyabet juara III di kompetisi regional Jatim pada awal Maret lalu. Berprestasi di usia belia membuat Sincan diincar para kicau mania. Setelah kompetisi, Sincan pernah ditawar Rp 20 juta.
Sejak dikeluarkan dari kandang belakang rumah Hasan, trahnya sebagai burung fighter sangat terlihat. Begitu kerodong (penutup) sangkar dibuka dan melihat murai baru lain, kicauan Sincan tidak pernah putus. Sambil membusungkan dada, menaik-turunkan ekor panjangnya, kicauan Sincan sambung-menyambung. Menirukan berbagai kicauan burung dalam satu irama panjang.
Ya, kelebihan burung bernama Latin Copsychus malabaricus itu memang terletak dari kicauannya. Murai batu termasuk salah satu spesies burung cerdas. Dengan kemampuan meniru yang apik. Berbagai jenis suara burung bisa ditiru persis. ”Saya tutup lagi ya,” ujar pria kelahiran 7 Juni 1978 itu sambil menutup sebagian sangkar dengan kerodong.
Menutup kerodong memang dia lakukan agar aneka murai batu miliknya tidak saling adu suara. Menunjukkan siapa yang terbaik. Setelah ditutup, keramaian kicauan di rumah Hasan berkurang. Tinggal satu dua kicauan yang sesekali bersahutan.
Refleks ”bertempur”, istilah penghobi, disebut pertanda bagus saat burung berbalas kicauan. Artinya, sifat liar murai batu ketika bertemu penjantan lain masih terjaga. Mental itu penting. Tujuannya, saat burung naik di gantangan perlombaan, kicauannya keras dan mampu bersaing dengan murai batu lain.
Selain mental, ciri kualitas murai batu yang bagus juga bisa dilihat dari jumlah kicauan yang dikuasainya. Semakin banyak dan variatif, kualitas burung bisa meningkat. Kemampuan variasi kicauan itu bisa dilatih melalui proses mastering. Penguasaan kicauan bisa dilatih dengan mendekatkan murai batu dengan jenis burung lain yang mempunyai kicauan bagus. Sesuai dengan keinginan. Saat mastering, Hasan memilih beberapa jenis burung yang didekatkan ke murai yang dia latih suara. Misalnya, burung cililin, cucak jenggot, kenari, prenjak, kolibri, dan love bird.
Pria asli Jember itu menyebutkan, puluhan koleksi murai batunya saat ini sudah mempunyai kemampuan berkicau secara lengkap. Kualitas itu membuat banyak murai batu miliknya sering menyabet juara, baik tingkat regional maupun nasional.
Bahkan si Hammer, salah satu murai batu miliknya, pernah menjuarai ajang internasional Asia Cup pada 2011 yang diselenggarakan di Singapura. Si Hammer, yang kini berusia 25 tahun, waktu itu menyabet juara I. Mengalahkan 50 peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara. ”Langsung saat itu juga, si Hammer ditawar tujuh ratus juta,” ucapnya. Namun, Hasan tidak mau melepas Hammer karena telanjur cinta. Kalaupun ada yang menawar lagi, Hasan siap-siap pasang tarif selangit agar si Hammer tetap bersamanya. ”Kalau dibeli Rp 2 miliar, saya baru mau,” ucapnya, lantas tertawa.
