Bagi calon investor, pasar modal syariah bisa menjadi pilihan untuk berinvestasi. Analis sepakat bahwa instrumen itu lebih tahan di tengah krisis. Namun, investor harus mengenali profil risiko sebelum memutuskan.
---
TREN pasar modal syariah mengalami peningkatan yang signifikan. Data per Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semester I 2021 menunjukkan, indeks saham syariah Indonesia (ISSI) mulai mengalami pertumbuhan positif sejak penutupan 24 Maret 2020. Saat itu ISSI berada di level terendahnya, yakni 123,78. Sementara itu, pada perdagangan akhir pekan ini (10/9), finis di posisi 174,40. Meskipun, secara year-to-date (YtD) masih minus 1,74 persen.
Selain itu, data jumlah investor saham syariah sudah menembus angka psikologis 100 ribu investor. Tepatnya 100.266 orang. Hal tersebut menunjukkan rata-rata pertumbuhan sebesar 55 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.
Analis pasar modal syariah Asep Muhammad Saepul Islam menuturkan, yang terpenting dalam investasi adalah mengenali profil risiko. Pengenalan itu harus didahulukan sebelum memilih instrumen investasi yang cocok. ’’Saya sering menyebutkan peribahasa kenal risiko, kenal rezeki,’’ ucapnya kepada Jawa Pos.
Pria yang akrab disapa Mang Amsi itu menjelaskan, pasar modal syariah menawarkan solusi investasi bagi investor yang memiliki preferensi investasi dalam instrumen yang sudah dinyatakan halal oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan OJK. Instrumen juga sudah melalui proses skrining menurut kriteria efek syariah berdasar fatwa dari MUI.
Selain itu, tersedia sistem online trading syariah (SOTS) untuk para investor yang ingin bertransaksi di bursa. SOTS tersebut memungkinkan investor hanya bisa berdagang saham syariah dengan mekanisme transaksi yang sesuai ketentuan Islam. ’’Sistem akan menolak transaksi yang tidak diperbolehkan secara hukum fikih yang disepakati MUI. Semisal, menggunakan utang pinjaman dari sekuritas yang berbasis bunga,’’ jelas founder Syariah Saham tersebut. Hal itulah yang membuat indeks saham syariah lebih unggul ketika terjadi krisis.
Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menambahkan, pasar saham syariah menjanjikan. Sebab, salah satunya membatasi rasio utang perusahaan atau debt to equity ratio (DER). Dengan demikian, fundamental perusahaan emiten syariah lebih baik. ’’Apalagi di tengah fluktuasi akibat pandemi Covid-19, sebenarnya saham-saham syariah itu perusahaan yang lebih baik posisinya,’’ terangnya.
Menurut dia, industri pasar modal syariah Indonesia kekurangan emiten sektor keuangan. Yakni, perusahaan perbankan dan asuransi. Saat ini hanya Bank Syariah Indonesia (BRIS) yang menjadi salah satu market leader di pasar saham.
Padahal, prospek tahun ini dan 2022, salah satu pertumbuhan saham di Indonesia akan disokong perusahaan teknologi informasi dan perbankan. Oleh karena itu, pasar modal syariah kekurangan emiten bank. Meskipun demikian, rata-rata perusahaan teknologi sebenarnya punya DER yang rendah.
’’Saya perkirakan mereka masuk ke perusahaan syariah. Saat ini sudah ada Bukalapak, nanti ada GoTo, Traveloka, kemungkinan mereka bisa masuk ke perusahaan syariah. Jadi, prospeknya sangat menjanjikan prospek industri pasar modal syariah,’’ beber Hans.
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu merekomendasi para calon investor untuk membeli saham syariah tahun ini. Apalagi, pasar saham saat ini tengah fluktuatif akibat pandemi serta risiko perubahan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves (The Fed), dan bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB). Sentimen tersebut masih akan membuat pasar saham Indonesia relatif tertekan.
’’Ini kesempatan baik bagi investor dalam negeri untuk melakukan pembelian di pasar saham. Belilah perusahaan yang mereka pahami. Memahami kinerja, bisnisnya, dan sesuai prinsip Islam,’’ tandas Hans.
KINERJA PASAR MODAL SYARIAH PER SEMESTER I 2021
- Jumlah perusahaan: 434 emiten
- Kapitalisasi: Rp 3.452 triliun
- Aset: Rp 1.116 triliun
EMPAT SAHAM SYARIAH DENGAN KAPITALISASI TERBESAR
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
- PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)
- PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
Sumber: BEI