Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Desember 2018, 20.32 WIB

Mau Pesan, Cukup Tunjuk Gambar atau Bikin Simbol Bahasa Isyarat

PANTANG MENYERAH: Dari kiri, Adhika, Puteri, Erwin, dan Iman di Koptul Duren Tiga, Jakarta Selatan (4/12). - Image

PANTANG MENYERAH: Dari kiri, Adhika, Puteri, Erwin, dan Iman di Koptul Duren Tiga, Jakarta Selatan (4/12).

Kopi Tuli berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin mengalami penolakan demi penolakan saat melamar kerja. Dirancang sebagai tempat belajar dan berkarya kalangan tunarungu.


TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta


---


BAHASA isyarat berupa huruf A itu langsung dipahami M. Adhika Prakoso. Kosu Koso. "Itu kopi signature saya," katanya kepada Jawa Pos yang memesan racikan sejenis kopi susu dengan kandungan kopi yang lebih kuat tersebut.


Selasa tengah hari lalu itu (4/12) Koptul di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, tersebut mulai ramai. Berada di kawasan perkantoran, banyak pekerja yang menghabiskan istirahat makan siang mereka di sana.


Koptul kependekan dari Kopi Tuli. Adhika bersama dua sahabat penggagasnya, Puteri Sampaghita Trisnawiny Santoso dan Tri Erwinsyah Putra, memang tunarungu.


Namun, siang itu, seperti juga hari-hari sebelumnya, sama sekali tak ada kendala komunikasi. Semua tamu terlayani dengan baik dan cepat. Sebanyak 12 menu yang terpampang, masing-masing disertai bahasa isyarat, sangat membantu memudahkan percakapan.


Untuk memesan kopi, pembeli cukup menunjuk gambar atau membuat simbol bahasa isyarat yang sudah terpampang di menu. Kosu Koso, misalnya, diberi simbol bahasa isyarat huruf A, Kosu Wings dengan huruf B, dan Kosu Siput dengan C.


Total, ada 12 menu minuman di Koptul dengan 12 huruf simbol yang berurutan. Dengan harga bervariasi, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.


"Koptul di Duren Tiga ini adalah cabang kedua kami. Yang pertama berada di Krukut, Depok," kata Adhika kepada Jawa Pos.


Kami berbicara tanpa bahasa isyarat. Adhika, sebagaimana Puteri dan Erwin, membaca gerak mulut saya. Jika ada yang sulit dipahami, baru digunakan bahasa tulis.


Dua cabang Koptul itu adalah bukti kegigihan Adhika, Puteri, dan Erwin. Mereka menolak menyerah kepada keadaan yang kerap memarginalkan atau malah diskriminatif.


Adhika bercerita, begitu lulus dari Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 2016, dirinya tidak kunjung mendapat pekerjaan. "Saya sudah melamar, ada 200 perusahaan, tidak ada yang mau menerima," kata Adhika.


Hal yang sama dialami Puteri. Perempuan 27 tahun yang juga lulusan DKV Binus itu bahkan sudah mengajukan setidaknya 500 lamaran. Namun, dia baru satu kali lolos tes hingga interview. Saat wawancara itu, tiba-tiba HRD (human resources department) perusahaan swasta tersebut menolak.


"Dibilang posisinya sudah terisi," kata Puteri tentang pengalaman yang juga pernah dialami Erwin.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore