
Jang Dae Hee dalam drama Itaewon Class yang mencerminkan ambisi dan kekuasaan. (kincir.com)
JawaPos.com–Drama Korea Itaewon Class menyajikan kisah Park Sae-ro-yi yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan. Namun, di balik sosok protagonis yang kuat, terdapat karakter antagonis yang tak kalah kompleks, Jang Dae Hee.
Ketua Jang, pendiri dan pemilik perusahaan Jangga Group, digambarkan sebagai sosok yang dingin, manipulatif, dan penuh ambisi. Artikel ini akan menelisik bagaimana tekanan sosial dan budaya, sebagai bagian dari lingkungan yang membentuknya, berkontribusi pada agresi karakter Jang Dae Hee, menjadikannya representasi sisi gelap kekuasaan.
Kisah hidup Jang Dae Hee tidak lepas dari kerasnya persaingan di dunia bisnis Korea Selatan yang kompetitif. Sistem hierarki yang kuat dan budaya senioritas yang kental, turut membentuk pola pikirnya yang otoriter.
Seorang profesor madya studi filantropi di Universitas Indiana dan direktur Program Interdisipliner tentang Penelitian Empati dan Altruisme Sara Konrath, PhD menjelaskan setengah dari kemampuan empati seseorang dipengaruhi lingkungan.
”Seperti kebanyakan hal dalam psikologi, ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa empati memiliki komponen genetik, sekitar setengah dari empati yang dimiliki bayi sejak lahir adalah komponen genetik, tetapi pola asuh, sekolah, komunitas, lingkungan, budaya juga dapat memengaruhi empati,” Kata Sara dikutip dari apa.org.
Lingkungan sosial dan budaya yang dia alami, secara signifikan memengaruhi karakternya, mendorongnya untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun, bahkan dengan tindakan yang melanggar etika. Berikut beberapa kualitas yang dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya Jang Dae Hee.
Jang Dae Hee tumbuh dalam lingkungan bisnis yang menekankan pada kekuasaan dan dominasi. Dia belajar bahwa untuk bertahan dan sukses, seseorang harus mengendalikan segalanya. Mentalitas ini membuatnya sulit menerima pendapat orang lain dan cenderung memaksakan kehendaknya.
Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut. Kutipan Lord Acton ini menggambarkan bagaimana kekuasaan yang tak terkendali dapat merusak karakter seseorang, seperti yang terjadi pada Jang Dae Hee.
Tekanan untuk terus meraih keuntungan dan mempertahankan posisi puncak di dunia bisnis yang keras, membentuk karakter Jang Dae Hee yang pragmatis. Dia mengabaikan konsekuensi moral dari tindakannya, selama hal tersebut menguntungkan diri dan perusahaannya. Baginya, tujuan menghalalkan segala cara.
Lingkungan bisnis yang penuh intrik dan persaingan ketat, memaksa Jang Dae Hee untuk mengembangkan kemampuan manipulatif. Dia lihai memanfaatkan situasi dan orang lain untuk mencapai tujuannya. Baginya, manipulasi adalah satu diantara alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Fokus yang berlebihan pada kekuasaan dan kesuksesan pribadi, mengikis kemampuan Jang Dae Hee untuk berempati terhadap orang lain. Dia melihat orang lain sebagai alat atau ancaman, bukan sebagai sesama manusia. Hal ini tercermin dalam perlakuannya terhadap orang-orang di sekitarnya, termasuk putranya sendiri.
Setiap tantangan terhadap kekuasaannya, ditanggapi Jang Dae Hee dengan reaksi yang agresif. Dia tidak segan menggunakan kekerasan verbal maupun non-verbal untuk menyingkirkan siapa pun yang berani melawannya. Hal ini menunjukkan betapa besar ketakutannya kehilangan kendali.
Lingkungan sosial dan budaya yang keras dan kompetitif, telah membentuk karakter Jang Dae Hee menjadi sosok yang ambisius, manipulatif, dan agresif. Tekanan untuk terus berkuasa dan mempertahankan dominasi, telah mengorbankan sisi kemanusiaannya. Dia menjadi representasi dari sisi gelap kekuasaan yang korup dan merusak.
Perjalanan hidup Jang Dae Hee di Itaewon Class memberikan gambaran yang kuat tentang bagaimana lingkungan dapat memengaruhi karakter seseorang. Tekanan sosial dan budaya, dapat membentuk individu menjadi sosok yang positif maupun negatif, tergantung bagaimana individu tersebut merespons. Kisahnya menjadi pengingat pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat dan suportif, agar dapat menghasilkan individu-individu yang berkualitas dan berintegritas.
Kisah Jang Dae Hee juga mengingatkan kita bahwa kekuasaan tanpa kendali dan tanpa landasan moral yang kuat, dapat membawa dampak yang buruk bagi individu maupun masyarakat. Penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara ambisi dan nilai-nilai kemanusiaan, agar tidak terjerumus ke dalam sisi gelap kekuasaan seperti yang dialami Jang Dae Hee.
