alexametrics

Inflasi Meningkat, Pasokan Bahan Makanan Harus Jadi Fokus Perhatian

2 Mei 2019, 19:48:33 WIB

JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan inflasi pada April sebesar 0,44 persen, tertinggi sepanjang 2019. Meski masih terkendali, BPS mengingatkan pemerintah mewaspadai lonjakan harga pasokan komoditas bumbu-bumbuan yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi bulan ini.

Menanggapi itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko menilai peningkatan angka inflasi pada April 2019 ini masih dalam tingkat wajar. Sebab, beberapa bulan ke depan mulai memasuki bulan Ramadan dan mendekati hari raya Lebaran.

“Inflasi jelang lebaran itu musiman. Karena lebarannya di antara Mei-Juni,” kata Onny di Gedung BI, Jakarta, Kamis (2/5).

Inflasi Meningkat, Pasokan Bahan Makanan Harus Jadi  Fokus Perhatian
Ilustrasi komoditas bawang putih jadi perhatian karena minimnya pasokan bisa mendorong kenaikan harga yang bisa memicu inflasi (Dok.JawaPos.com)

Kendati demikian, Onny menyatakan akan mengantisipasi dengan mengaktifkan Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) untuk memantau inflasi kelompok bahan makanan jelang Lebaran. Beberapa komoditas yang akan diawasi adalah beras, bawang merah dan bawang putih.

“Bawang merah dan bawang putih akan kita pantau agar harganya tidak melonjak. Ada harapan deflasi seperti beras dan beberapa volatile food yang akan saling menutup. Kita yakin setelah lebaran (inflasi) akan turun,” katanya.

Khusus inflasi komoditas transportasi berupa tiket maskapai penerbangan, dirinya mengaku juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengendalikan dampak dari kenaikan harga tiket terhadap inflasi. BI juga optimistis besaran inflasi keseluruhan akan terkendali.

“Kita optimistis kisaran inflai sekitar 3,5 persen. Di bulan Mei akan meningkat karena musiman seperti Desember. Tapi paling tinggi menjelang Lebaran. Untuk ke depan kita tunggu, pasti akan di pantau,” tukasnya.

Terpisah, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai kenaikan inflasi pada komiditas bahan makanan yang cukup signifikan bukan karena faktor musiman semata. Dia bilang, ada permasalahan dari pasokan bahan makanan, khusunya untuk bawang putih dan merah.

Bhima menuturkan, pasokan bawang putih tersendat lantaran terlambatnya impor. Sedangkan pasokan bawang merah harus diantisipasi terus berkurang karena faktor cuaca.

“Kondisi produksi pangan di daerah yang rawan bencana juga berpengaruh terhadap kenaikan harga. Jadi, bukan karena faktor musiman saja,” katanya saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (2/5).

Di sisi lain, imbuh dia, sumbangan harga tiket pesawat ke inflasi juga telah konsisten dirasakan sejak awal tahun. Bhima memperkirakan inflasi antara Mei-Juni akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

“Target pemerintah menjaga inflasi dilevel 3,5 persen perlu disiasati dengan manajemen pasokan dan pengendalian pola distribusi,” pungkasnya.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulanan pada April 2019 sebesar 0,44 persen. Inflasi secara tahun kalender pun mencapai 0,80 persen dan 2,83 persen secara tahunan.

Angka inflasi tersebut menjadi terbesar sepanjang 2019. Adapun inflasi pada Januari sebesar 0,32 persen, Februari mengalami deflasi 0,08 persen, dan inflasi Maret sebesar 0,11 persen.

BPS mencatat besaran inflasi secara tahun kalender pada April 2019 dinilai lebih tinggi dibandingkan pada April 2018 yang hanya sebesar 0,10 persen. Sementara April 2017 sebesar 0,09 persen.

Tapi, inflasi tahun ke tahun (year on year) lebih rendah dari dua tahun sebelumnya. Pada April 2019 ini, inflasi dari tahun ke tahun hanya 2,83 persen.

Adapun penyumbang inflasi tertinggi berasal dari komoditas bahan pokok atau bumbu dapur. Yang paling tinggi, harga bawang merah meningkat secara rata-rata sebesar 22,93 persen atau memberikan andil inflasi sebesar 0,13 persen.

Sementara bawang putih secara rata-rata mengalami kenaikan harga rata-rata sebesar 35 persen dan memberikan andil kepada inflasi pada bulan ini sebesar 0,09 persen.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads