
Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Pertamina EP Rantau di Aceh Tamiang, fokus pada inklusi difabel dan ketahanan pangan. (Istimewa)
JawaPos.com – Pertamina EP (PEP) Rantau, bagian dari Pertamina Hulu Rokan Zona 1, menorehkan jejak nyata dalam pemberdayaan masyarakat Aceh Tamiang melalui implementasi Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Program ini dirancang berdasarkan hasil social mapping yang mengidentifikasi tantangan khas daerah, seperti tingginya jumlah penyandang disabilitas, ancaman banjir tahunan, serta meningkatnya kebutuhan pangan.
“Kami ingin memberi ruang bagi kelompok rentan, termasuk difabel dan petani muda, untuk tumbuh mandiri dan menjadi aktor perubahan. Begitu juga untuk pengentasan stunting yang sejalan dengan program pemerintah,” ujar Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, Senin (10/11).
Salah satu inisiatif unggulan PEP Rantau adalah Sinar Pelita (Sistem Inklusif dan Responsif Pelibatan Difabel dalam Tanggap Bencana). Program ini melatih lebih dari 30 penyandang disabilitas menjadi anggota SATGAS DIGDAYA (Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya) yang kini terampil membuat shelter darurat, mengoperasikan perahu evakuasi bertenaga surya, hingga mengelola box energy untuk penyimpanan daya saat banjir.
Program yang menggandeng BPBD Aceh Tamiang ini disambut positif masyarakat. Tidak hanya tanggap bencana, PEP Rantau juga memfasilitasi berdirinya Café Ramah Difabel pertama di Aceh Tamiang, bengkel, dan doorsmeer ramah lingkungan yang dikelola difabel tuna daksa dengan dukungan teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kini, kelompok difabel di wilayah itu tak hanya mandiri secara ekonomi, tapi juga menjadi contoh inklusivitas sosial.
Selain itu, konsistensi keberlanjutan juga diwujudkan melalui Program Desa Energi Berdikari. PEP Rantau menyediakan energi bersih bagi Café Inklusi dan Bengkel Difabel, sekaligus menjadikan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Aceh Tamiang sebagai Sekolah Energi Berdikari pertama di lingkungan Pertamina.
Dengan panel surya 3,3 kWP dan baterai 5 kWh, sekolah tersebut mampu menghemat biaya listrik hingga Rp6 juta per tahun dan menekan emisi karbon sebesar 1.565 KgCO₂eq. Inisiatif ini juga menjadi laboratorium hidup bagi siswa untuk belajar transisi energi sejak dini.
Selanjutnya, komitmen PEP Rantau terhadap ketahanan pangan diwujudkan lewat program Future Farmers, yang mengubah lahan tidur seluas 1,8 hektare menjadi kebun cabai produktif bersama Kelompok Tani Tunas Muda di Kampung Tanjung Seumantoh.
“Cabai adalah komoditas penting di Aceh Tamiang. Kehadiran Pertamina EP Rantau sangat kami rasakan. Menanam cabai itu biayanya besar dan risikonya tinggi. Lewat program ini, kami bisa bertahan dan berkembang,” ungkap Amal Yudistira, pengurus kelompok tani setempat.
Selain cabai, program Melonesia (Smart Farming Kelompok Melon Mutiara Aceh Tamiang) memperkenalkan sistem pertanian berbasis teknologi. Sebanyak 25 calon petani melon telah mengikuti Sekolah Lapang dan kini siap mengembangkan kebun melon di lahan masing-masing.
Di bidang lingkungan, PEP Rantau menanam 1.650 pohon darat dan air serta melakukan konservasi mangrove di Pusong Kapal, Seruway. Upaya pelestarian ini melengkapi program Pencegahan Stunting melalui kelas ibu hamil, pelatihan pangan bergizi berbasis daun kelor, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita stunting. Bekerja sama dengan Dinas Sosial, perusahaan juga menyalurkan alat bantu bagi penyandang disabilitas bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Konsistensi tersebut mengantarkan PEP Rantau meraih Asia Responsibility Enterprise Awards (AREA) 2025 kategori Social Empowerment melalui program Sinar Pelita, serta Public Relations Indonesia Awards kategori Community Based Development untuk inisiatif Rumah Kreatif Tamiang.
“Inklusi difabel, energi hijau, pertanian berkelanjutan, pencegahan stunting, dan pelestarian lingkungan bukan proyek sesaat. Ini investasi sosial untuk masyarakat Aceh Tamiang yang lebih tangguh,” tegas Iwan.
