Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Januari 2025, 19.58 WIB

Perusahaan Lakukan Penyesuan Polis Dampak Inflasi Medis

Ilustrasi: Asuransi jiwa di luar sana menjadi hal yang lumrah dimiliki masyarakat. (Insurance Business America). - Image

Ilustrasi: Asuransi jiwa di luar sana menjadi hal yang lumrah dimiliki masyarakat. (Insurance Business America).

JawaPos.com - Inflasi medis menjadi tantangan industri asuransi jiwa. Perusahaan asuransi jiwa perlu melakukan penyesuaian premi, agar tetap bisa memberikan perlindungan yang sesuai bagi para pemegang polis.

Inflasi medis yang tinggi berpotensi berpotensi membuat klaim asuransi kesehatan melonjak. Makanya, Prudential Indonesia memberikan layanan tambahan bagi nasabah produk asuransi kesehatan jenis tertentu. Berupa pendampingan virtual termasuk layanan opini medis, pilihan perawatan, dokter, dan rumah sakit yang sesuai.

"Bahkan setelah perawatan di rumah sakit, sehingga nasabah mendapatkan rekomendasi pemulihan kesehatan yang tepat," kata Chief Costumer and Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen, kemarin (15/1).

Upaya yang dilakukan perusahaan, lanjut dia, sebagai upaya menjawab kebutuhan nasabah yang seringkali bingung ketika sakit. Bahkan sejak memiliki diagnosis suatu penyakit.

Mulai dari menentukan diagnosis yang akurat hingga memastikan rencana perawatan yang sesuai. Termasuk menghitung besaran biaya untuk seluruh proses medis yang harus dijalani.

Karin menjelaskan, melalui layanan PRUCare Advisor, nasabah bisa mendapatkan opini kedua terhadap kondisi medis yang dihadapi dari dokter yang berbeda. Sehingga dapat mengambil keputusan untuk melanjutkan rencana perawatan atas penyakitnya.

"Kami terus berupaya meningkatkan pelayanan terhadap nasabah, agar nasabah yang sedang sakit dapat fokus pada perawatan dan pemulihan yang dilakukan," terangnya.

Menurut dia, terobosan layanan tersebut menjadi salah satu opsi di tengah meningkatnya inflasi medis yang juga menjadi tantangan industri asuransi saat ini. Hingga Kuartal III 2024, rasio klaim kesehatan industri asuransi jiwa menembus 100 persen.

Hasil survei Health Trend Report 2025 dari Mercer Marsh Benefit memproyeksikan inflasi medis di Indonesia pada 2025 dapat mencapai 19 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum yang diproyeksikan sebesar 2,6 persen.

"Angka ini meningkat dari proyeksi pada akhir 2024 yang dapat mencapai 17,9 persen. Maka seiring dengan meningkatnya biaya kesehatan yang dapat berdampak pada tingkat pengeluaran kebutuhan masyarakat, serta mengurangi risiko overtreatment tersebut. PRUCare Advisor menjadi semakin relevan, karena nasabah dapat mengelola limit asuransi kesehatan yang dimilikinya," jelasnya.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat klaim asuransi kesehatan di industri asuransi jiwa mencapai Rp 20,91 triliun. Nilai tersebut naik 37,2 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai Rp 15,24 triliun.

"Nilai yang masih tinggi itu, antara lain disebabkan oleh inflasi biaya medis yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa periode ke depan," ujar Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu.

Tingginya inflasi medis berpotensi membuat perusahaan asuransi melakukan penyesuaian premi. Sehingga memberikan perlindungan yang relevan bagi para pemegang polis. Pihaknya juga akan berdiskusi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Kesehatan, dan sejumlah penyedia jasa layanan keuangan mencari solusi. 

Merujuk rekap data AAJI, rasio klaim kesehatan terus meroket di 3 tahun terakhir. Pada kuartal III 2022, rasio klaim kesehatan sebesar 95 persen. Kemudian pada kuartal III tahun berikutnya menembus 122,2 persen. Sedangkan, per kuartal III 2024 mencapai 139,5 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore