
EDUKATIF: Mahasiswa KKN Unair ajarkan olah sampah dengan maggot kepada warga Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto. (Iqbaal untuk Jawa Pos)
JawaPos.com - Persoalan sampah di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto, perlahan menemui solusi. Berkat mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang sedang menjalani program kerja kuliah nyata (KKN), kini warga desa tersebut mampu mengolah sampah lewat larva lalat tentara hitam atau maggot.
Program tersebut dinamai Tamiajeng Maggot Initiative (Tamago). Di desa tersebut volume sampah terus meningkat setiap harinya. Bau tak sedap pun kerap mengganggu kenyamanan warga.
Ketua Kelompok BBK 5 Universitas Airlangga Muhammad Iqbaal Adzani mengatakan, warga desa dikenalkan dengan metode pengelolaan sampah organik. Yakni, memanfaatkan maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) sebagai solusi inovatif dalam mengurangi dampak negatif dari penumpukan sampah.
Di hadapan warga, mahasiswa memaparkan cara pengelolaan sampah melalui budi daya Maggot. Malahan mempraktekkan prosesnya secara langsung. “Alhamdulillah respons warga sangat bagus, positif. Warga antusias mengajukan pertanyaan, terutama terkait proses perkembang biakan Maggot dan potensi ekonominya dalam mendukung perekonomian masyarakat," jelas mahasiswa Fakultas Ekonomi Islam itu.
Iqbaal menyebut bahwa sebelumnya budidaya dan pemberdayaan Maggot pernah dilakukan di Desa Tamiajeng. Namun dikelola secara individu oleh warga bernama Marlin, tapi tidak berkembang dengan baik.
"Pak Marlin, salah satu warga Desa Tamiajeng pernah mencoba mengembangbiakkan Maggot menggunakan kotoran puyuh sebagai pakan. Namun, usaha tersebut tidak berhasil karena terbatasnya pasar penjualan maggot pada masa itu," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tamiajeng Warnoto menerangkan bahwa pengelolahan sampah di Desa Tamiajeng tidak melalui proses pemilahan sampah terlebih dahulu. Sehingga dampaknya terjadi penumpukkan sampah di TPA.
Pihaknya berharap dengan Program TAMAGO, problem sampah bisa sedikit demi sedikit bisa teratasi. Program mahasiswa KKB 5 positif karena dapat menjadi solusi penumpukan sampah organik.
"Program TAMAGO mahasiswa BBK 5 Unair bagus, harapannya dapat dilanjutkan pihak Desa yang berpusat di TPA milik Desa. Pemberdayaan Maggot ini saya rasa baik sekali, kita tinggal melanjutkan. Untuk pelaksanaanya seperti apa nanti, sudah ada di gudang TPA,” ujarnya.
