
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi setuju dengan rencana Prabowo Subianto menggelar retreat kepala daerah. (Humas Pemkot Surabaya)
JawaPos.com - Kabar kembalinya pelaksanaan Ujian Nasional atau UN, yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, kini mulai menunjukkan titik terang. Abdul Mu’ti mengungkapkan pihaknya sedang menyiapkan nama dan format UN. Bahkan siswa-siswi jenjang SMA/SMK sederajat akan mulai mengikuti UN versi baru pada November 2025 mendatang.
"Kenapa November? Karena yang kelas 12 itu nanti dia akan kuliah, sehingga hasilnya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/1).
Adapun bagi siswa jenjang SD dan SMP, lanjut Mendikdasmen Abdul Mu'ti, UN versi baru baru akan diterapkan tahun depan (2026). Terkait nama dan konsepnya, ia belum bisa menjawab karena masih dirahasiakan. Yang jelas, Mendikdasmen akan menghilangkan kata "ujian" dalam nama UN versi baru. "Namanya apa? Nanti tunggu saja, yang jelas tidak ada kata-kata ujian dalam (format) yang baru itu," imbuhnya.
Kabar pelaksanaan UN versi baru ini lantas mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak. Salah satunya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, yang sejak awal mendukung rencana mengembalikan Ujian Nasional.
"Kalau saya sepakat dengan Ujian Nasional," ujarnya ditemui di Ruang Wali Kota, Selasa (21/1). Dengan catatan dilaksanakan dengan bijak. Tidak memunculkan kembali sistem lulus gak lulus, yang mana saat ini sudah dihapus.
Menurut Eri, dengan adanya Ujian Nasional, siswa menjadi lebih terpacu untuk rajin belajar. Tentu agar bisa diterima di sekolah incarannya. Mereka juga bisa mengetahui dan mengukur kemampuan dari nilai yang didapatkan.
"Kalau saya berprestasi saya dapat apa, sehingga ini mendidik dengan Ujian Nasional. Saya berharap ini bukan tentang ada yang lulus dan gak lulus. Tetapi menunjukkan prestasi dan tidak prestasi," imbuhnya.
Ia lantas menyoroti sistem Zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Yang mana jalur tersebut tidak mempertimbangkan prestasi siswa untuk bisa diterima di sekolah. Melainkan berdasarkan jarak rumah.
"Kalau prestasi tidak prestasi gak ada bedanya, ya gak usah berprestasi saja, logikanya kan seperti itu. Ketika zonasi, Yang rumahnya deket bisa masuk (diterima sekolah) walaupun nilainya jelek. Akhirnya yang berprestasi punya rasa kecewa," tandas Eri.
Meski demikian, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi percaya bahwa Kemendikdasmen pasti sudah mempertimbangkan hal-hal yang selama ini meresahkan masyarakat. Eri berharap UN versi baru bisa lebih adil bagi siswa.
