Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Januari 2025, 03.12 WIB

DBD di Surabaya Meningkat: Gejala Lemas dan Demam Bisa Jadi Tanda Kritis

Ilustrasi penanganan kasus DBD di RSUD Dr Soetomo. (Juliana Christy/JawaPos.com). - Image

Ilustrasi penanganan kasus DBD di RSUD Dr Soetomo. (Juliana Christy/JawaPos.com).

 
JawaPos.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Surabaya terus menjadi perhatian, terutama pada pergantian musim dari kemarau ke hujan. Menurut Wakil Direktur Medis Rumah Sakit Universitas Surabaya (RS Ubaya), dr. Deltania Herwendanasari, MMRS., puncak kasus DBD sering terjadi di musim hujan, terutama saat banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
 
Anak-anak, terutama usia sekolah di bawah 18 tahun, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap DBD. “Mobilitas anak-anak lebih tinggi. Mereka sering bermain di luar rumah atau berkumpul di sekolah, sehingga lebih sering terpapar gigitan nyamuk dibandingkan orang dewasa yang lebih banyak beraktivitas di tempat kerja,” jelas Deltania di Surabaya.
 
Sementara itu, pada orang dewasa, kasus yang memerlukan perawatan rumah sakit lebih jarang terjadi karena daya tahan tubuh yang relatif lebih kuat. “Orang dewasa cenderung bisa menjaga diri dengan memakai pakaian pelindung seperti baju berlengan panjang atau menggunakan losion anti-nyamuk, sedangkan anak-anak jarang melakukannya,” tambahnya.
 
Gejala awal DBD sering kali mirip dengan flu biasa, seperti demam, pilek, atau badan pegal-pegal. Namun, perbedaan utama terlihat pada hari ketiga hingga keempat, saat pasien mulai menunjukkan tanda-tanda khas seperti lemas yang semakin parah, munculnya perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik-bintik merah di kulit dan demam yang tinggi tetapi tidak merespons obat penurun panas.
 
“Yang perlu diperhatikan adalah ketika demam turun, tubuh pasien justru memasuki fase kritis. Pada tahap ini, trombosit biasanya turun, sehingga tubuh terasa lemas dan risiko komplikasi meningkat,” terang dr. Deltania.
 
Dia menambahkan, masa inkubasi virus DBD berkisar antara 7 hingga 14 hari setelah seseorang digigit nyamuk. “Gejala dapat muncul lebih cepat jika daya tahan tubuh seseorang sedang rendah,” imbuhnya.
 
 
Menjaga daya tahan tubuh sangat penting untuk pencegahan. “Makanan bergizi, cukup istirahat, olahraga ringan, dan manajemen stres sangat membantu tubuh melawan virus. Jangan lupa juga untuk minum air putih dan vitamin,” saran Deltania.
 
Deltania menekankan pentingnya edukasi, terutama bagi orang tua. Anak-anak lebih sering dirawat di rumah sakit karena belum dapat mengenali gejala dengan baik atau menjaga asupan cairan sendiri. “Pada anak-anak, trombosit bisa turun drastis tanpa disadari. Orang tua biasanya langsung membawa anak ke rumah sakit jika demam tinggi dan lemas,” jelasnya.
 
Sebaliknya, pasien dewasa sering menunda perawatan ke rumah sakit karena menganggap gejala bisa ditangani sendiri. “Pada dewasa, kami biasanya memberikan edukasi agar mereka tetap waspada terhadap tanda bahaya, seperti perdarahan atau lemas yang memburuk,” katanya.
 
Deltania juga menyoroti bahwa virus DBD dapat bermutasi dengan cepat. “Seseorang yang pernah terkena DBD masih berisiko terkena lagi dengan jenis virus yang berbeda. Virus ini serupa dengan COVID-19, di mana mutasi genetiknya membuat tubuh sulit mengenali varian baru,” ungkapnya.
 
Deltania mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama musim hujan ini. “Pastikan lingkungan rumah dan sekolah bebas dari genangan air. Jika mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik dalam dua hari, segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tutupnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore