JawaPos.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Surabaya menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang Desember 2024 hingga Januari 2025. Data dari empat rumah sakit di Surabaya mencatat total 275 kasus. Rinciannya, 14 kasus di Rumah Sakit Husada Utama (RSHU), 15 kasus di Rumah Sakit Universitas Surabaya (RS Ubaya), 71 kasus di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dan 175 kasus di Rumah Sakit Haji.
Menurut dr. Luki Agustina, SpPD., peningkatan ini dipengaruhi oleh pergantian musim (pancaroba) yang meningkatkan populasi nyamuk. "Setiap perubahan musim, terutama dari kemarau ke musim hujan, selalu ada peningkatan kasus DBD. Kelembapan udara menjadi salah satu faktor utama," ungkapnya di Surabaya.
Luki menambahkan bahwa kelompok usia yang paling rentan terkena DBD adalah balita dan lanjut usia (geriatri). "Pada balita, sistem imunnya belum matang, sedangkan pada lansia, fungsi organ tubuh dan produksi antibodi cenderung menurun. Selain itu, orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, autoimun, atau mereka yang mengonsumsi obat penekan sistem imun juga memiliki risiko lebih tinggi," jelasnya.
Balita didefinisikan sebagai anak di bawah lima tahun, sementara kelompok lansia adalah mereka yang berusia di atas 60 tahun. "Daya tahan tubuh kelompok ini lebih rendah, sehingga lebih mudah terserang penyakit," tambah dokter spesialis penyakit dalam RSHU itu.
Gejala awal DBD seringkali mirip dengan flu biasa, seperti demam, menggigil, dan badan pegal-pegal. Namun, ada ciri khas yang perlu diwaspadai, yaitu demam tinggi yang tidak merespons obat penurun panas. "Jika panas tinggi berlangsung lebih dari dua hari, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan," tegas Luki.
Selain demam, gejala lain yang sering muncul adalah lemas, keringat dingin, mual, dan tubuh terasa tidak nyaman. Pada kasus tertentu, terutama pada individu dengan sistem imun rendah, gejala dapat berupa badan lemah tanpa demam tinggi yang mencolok.
Ia juga menyarankan untuk mencegah munculnya genangan air. "Nyamuk DBD bukan berkembang di air kotor, tetapi di air bersih. Oleh karena itu, genangan air di rumah harus benar-benar dicegah," jelasnya.
Vaksin DBD juga disebutkan sebagai salah satu cara efektif untuk menekan risiko infeksi, terutama bagi kelompok rentan. "Efektivitas vaksin mencapai 70–80%. Meski tidak 100% melindungi, vaksin dapat mengurangi keparahan penyakit," tambahnya. Vaksin ini juga memerlukan booster setiap beberapa tahun untuk menjaga efektivitasnya.
Meskipun jumlah kasus DBD meningkat hingga 20% dibandingkan tahun lalu, fasilitas kesehatan di Surabaya masih mampu menangani pasien dengan baik. "Ketersediaan obat dan fasilitas masih mencukupi. Kondisi ini belum tergolong wabah (outbreak) sehingga masih terkendali," pungkas Luki.
Dengan kondisi cuaca yang cenderung mendukung penyebaran nyamuk, masyarakat diminta tetap waspada dan segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala DBD. Langkah pencegahan yang konsisten dan kesadaran dini akan gejala dapat membantu menekan jumlah kasus.