
Rivalitas sengit antara Alain Prost (kanan) dan Ayrton Senna (kiri) di McLaren. (autoweek.com)
JawaPos.com - Alain Marie Pascal Prost atau yang bisa dikenal Alain Prost merupakan pembalap asal Perancis kelahiran 24 Februari 1955. Prost juga merupakan salah satu legenda Formula 1 yang memenangi juara dunia pembalap sebanyak empat kali, 1985, 1986, 1989 dan 1993.
Prost mendapatkan julukan The Professor karena gaya balapnya yang sangat cerdas, memiliki pendekatan balapnya yang sangat tenang dan perhitungan yang matang dalam setiap aksi yang ia lakukan.
Selama kariernya di Formula 1, Prost membalap di empat tim kenamaan di F1 seperti McLaren, Renault, Ferrari dan Williams. Memulai debutnya di GP Argentina musim 1980 bersama McLaren.
Bersama McLaren, ia mendapatkan juara dunia pembalap sebanyak tiga kali, satu yang lainnya ia dapatkan bersama Williams di ujung kariernya sebelum memutuskan pensiun dari dunia balap. Statistik balap selama di F1 adalah 202 kali balapan, 51 kemenangan, 33 pole position, 106 podium, 41 lap tercepat, 789,5 poin (sistem poin pada saat itu) dan menghasilkan empat kali juara dunia pembalap.
McLaren merupakan tim pertama Alain Prost dalam dunia kariernya di Formula 1. Pada musim 1980, Prost hanya berhasil membawa pulang lima poin dari 13 balapan, tanpa kemenangan, tanpa pole position, tanpa pernah merasakan podium dan meraih posisi ke-15.
Tujuh musim bersama McLaren, Alain Prost sering kali berganti rekan setim mulai dari Keke Rosberg, Niki Lauda hingga Ayrton Senna yang mendominasi bersama musim 1988-1989. Alain Prost mendapatkan tiga gelar juara dunia bersama McLaren pada musim 1985,1986 dan 1989.
1985 bertarung melawan Michael Alboreto di tim Ferrari yang memiliki selisih 23 poin, musim 1986 melawan Nigel Mansell yang tidak menyelesaikan balapan terakhirrnya dalam penentuan juara dunia dan musim 1989 merupakan puncak dari rivalitas Prost dan Senna.
GP Jepang 1989 merupakan saksi bisu rivalitas dua pembalap juara dunia ini, keduanya bersenggolan saat bertarung di trek. Keduanya sama-sama sedang dalam perburuan gelar juara dunia pembalap. Hingga akhirnya, Prost lah yang meraih gelar juara dunia tersebut setelah Senna didiskualifikasi.
Statistik Prost bersama McLaren selama tujuh musim adalah 107 balapan, 30 kemenangan, 63 podium, tujuh kali pole position, dan mendapatkan 462,5 poin
Setelah musim debutnya yang kurang mengesankan bersama McLaren, Prost berpindah ke tim Perancis. Pada musim pertamanya bersama Renault, ia berhasil meraih kemenangan perdananya di GP Perancis musim 1981. Musim 1981, Prost berhasil mendapatkan tiga kemenangan, empat podium, dua kali pole position, 43 poin dari 15 balapan dengan berhasil menduduki posisi ke-5.
Musim keduanya bersama Renault musim 1982, Prost semakin menunjukkan bahwa ia merupakan salah satu pembalap bertalenta saat itu di Formula 1. Dari 16 balapan, ia berhasil mendapatkan dua kemenangan, lima podium, empat pole position, 34 poin dan berakhir di posisi ke-4 klasemen pembalap.
1983 merupakan musim terakhirnya di Renault sebelum berpindah (kembali) ke McLaren. Musim terakhirnya, ia membuat peningkatan dalam kariernya dengan berhasil menjadi runner up di klasemen pembalap di bawah Nelson Piquet. Statistik musim terakhirnya sebagai berikut, 15 kali balapan, empat kemenangan, sembilan kali podium, tiga kali pole position, 57 poin dan berhasil menjadi runner up.
Statistik keseluruhan bersama Renault, 54 kali balapan, sembilan kali menang , 17 podium, sepuluh pole position, 132 poin dan tanpa pernah meraih juara dunia pembalap.
Setelah keluar dari McLaren karena merasa diperlakukan berbeda dengan Senna, Prost bergabung dengan tim asal Italia, Scuderia Ferrari . Bersama Ferrari ia tidak pernah meraih gelar juara dunia pembalap, hanya mencapai runner up di musim pertamanya di tahun 1990. Setelahnya, di musim 1991 Ferrari dengan mesin V12nya sudah tidak kompetitif melawan mesin V10.
Hal itu membuat Prost berbicara lantang yang mengatakan bahwa Ferrari tidak lebih cepat daripada truk. Itu membuat dirinya dipecat secara tidak terhormat dari Scuderia Ferrari pada musim 1991. Statistik dua musim bersama Scuderia Ferrari adalah 31 balapan, lima kemenangan, sebelas podium, tanpa pernah pole position, 98 poin dan tanpa pernah meraih juara dunia pembalap.
