
Shin Tae-yong saat masih menjadi pelatih Timnas Indonesia. (Dok PSSI)
JawaPos.com - Di penghujung masa kepemimpinan Shin Tae-yong sebagai pelatih timnas Indonesia, publik bisa melihat jejak prestasi dan dampak positif yang ditinggalkannya bagi perkembangan sepak bola nasional. Periode kepelatihannya dari 28 Desember 2019 hingga 6 Januari 2025 telah mengukir berbagai catatan membanggakan, terutama dalam hal pengembangan talenta muda Indonesia.
Statistik memperlihatkan performa impresif di bawah kendali pelatih asal Korea Selatan ini. Bersama timnas senior, Shin mencatatkan 57 pertandingan dengan rincian 26 kemenangan, 14 hasil imbang, dan 17 kekalahan. Tim asuhan Shin berhasil mencetak 106 gol dan kebobolan 75 gol, dengan persentase kemenangan mencapai 45,61 persen.
Trio Muda yang Bersinar
Salah satu prestasi terbesar Shin Tae-yong adalah kemampuannya dalam mengidentifikasi dan mengembangkan bakat muda. Tiga nama yang menonjol selama era kepelatihannya adalah Pratama Arhan, Asnawi Mangkualam, dan Witan Sulaeman. Pratama Arhan muncul sebagai pemain dengan penampilan terbanyak (50 caps), diikuti oleh Asnawi Mangkualam (46 caps) dan Witan Sulaeman (45 caps). Ketiga pemain ini tidak hanya menunjukkan konsistensi dalam penampilan, tetapi juga kualitas permainan yang terus meningkat.
Produktivitas yang Mengesankan
Era Shin Tae-yong juga ditandai dengan munculnya pemain-pemain produktif di lini serang. Dalam hal mencetak gol, Witan Sulaeman memimpin dengan 9 gol, diikuti oleh Egy Maulana Vikri yang berkontribusi 8 gol, serta Dimas Drajad dengan 6 gol. Persaingan ketat juga terlihat di antara para pemain dalam hal assist, dengan Pratama Arhan memimpin (9 assist), disusul Witan Sulaeman (8 assist) dan Asnawi Mangkualam (7 assist).
Pembinaan Usia Muda yang Sistematis
Prestasi Shin Tae-yong tidak hanya terlihat di timnas senior. Di level U-23, ia membimbing tim dalam 21 pertandingan dengan hasil mengesankan: 11 kemenangan dan persentase kemenangan 52,38%. Tim U-23 juga menunjukkan produktivitas yang baik dengan 57 gol dan hanya kebobolan 42 gol.
Sementara itu, di level U-19/20, tercatat 32 pertandingan dengan 12 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 13 kekalahan. Meski persentase kemenangan 37,5% terlihat lebih rendah, namun ini menunjukkan komitmen Shin dalam memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang melalui pengalaman bertanding.
Regenerasi yang Berkesinambungan
Warisan terpenting dari era Shin Tae-yong adalah sistem regenerasi yang berkesinambungan. Pemain-pemain muda tidak hanya mendapat kesempatan bermain, tetapi juga diberi kepercayaan untuk memegang peran kunci dalam tim. Hal ini terlihat dari munculnya nama-nama seperti Egy Maulana Vikri, Ricky Kambuaya, dan Marselino Ferdinan yang konsisten tampil di level senior.
Baca Juga: Dipecat PSSI dari Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong Kini Banting Stir Jadi Aktor Film
Legacy untuk Masa Depan
Selama 1.836 hari masa kepelatihannya, Shin Tae-yong telah membangun fondasi yang kuat untuk sepak bola Indonesia. Beberapa pencapaian penting meliputi:
Tantangan ke Depan
