Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Juni 2025, 16.21 WIB

Liburan Sekolah, saatnya Anak-Anak Bermain dan Belajar tanpa Mereka Sadari

Ilustrasi bermain Lego bisa jadi alternatif liburan anak sembari belajar. (RianAlfianto/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi bermain Lego bisa jadi alternatif liburan anak sembari belajar. (RianAlfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com-Liburan sekolah kerap jadi momen bagi anak-anak melepaskan diri dari rutinitas belajar. Tapi bagi sebagian orang tua, masa ini justru menimbulkan kekhawatiran, bagaimana memastikan anak tetap belajar meski tidak duduk di bangku kelas.

Liburan juga bukan berarti harus mengisi hari anak dengan aktivitas belajar formal. Justru, masa ini bisa menjadi peluang emas untuk menumbuhkan minat, kepercayaan diri, dan keterampilan hidup anak lewat aktivitas yang mereka sukai.

Bermain, jika dilakukan dengan cara yang tepat, adalah cara belajar paling alami. Karena saat anak merasa senang, mereka lebih terbuka untuk belajar tanpa merasa sedang diajari.

Pertanyaan itulah yang coba dijawab lewat hadirnya Lego Playground, sebuah kegiatan interaktif bertema Main dan Jadi Hebat, yang berlangsung sejak 13 Juni hingga akhir Juli 2025 di beberapa kota di Indonesia, termasuk Jakarta.

Di tengah kebiasaan libur sekolah yang sering diisi dengan gawai dan hiburan pasif, Lego Playground diklaim menawarkan pendekatan berbeda, mengajak anak bermain, namun dengan struktur dan tantangan yang sengaja dirancang untuk mengasah keterampilan penting mereka.

Menurut survei Lego Play Well Report 2024, 98 persen orang tua di Indonesia menyadari bahwa bermain dapat memperkuat hubungan keluarga dan membuat anak lebih bahagia. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar meluangkan waktu untuk bermain bersama anak secara konsisten.

Masalahnya bukan pada niat, melainkan kurangnya pilihan kegiatan bermain yang edukatif dan terarah. Di sinilah pentingnya inisiatif seperti Lego Playground, bukan sekadar ajang promosi produk, tetapi juga upaya memperkenalkan kembali konsep bermain sebagai bentuk belajar ke dalam budaya pengasuhan keluarga Indonesia.

Penelitian juga menunjukkan bahwa keterampilan seperti kepercayaan diri, kreativitas, daya tahan mental, dan kemampuan komunikasi bukan hanya dibentuk di ruang kelas. Justru, permainan yang mendorong eksplorasi, kerja sama, dan penyelesaian masalah dapat menumbuhkan hal-hal itu secara alami.

Di Gandaria City Mall, misalnya, Lego Playground menyulap area publik menjadi ruang eksplorasi anak-anak. Mulai dari merancang kendaraan, membuat katapel mini dari balok Lego hingga melintasi rintangan dengan topi buatan sendiri, kegiatan-kegiatan ini menyatukan unsur imajinasi, logika, dan ketangkasan fisik dalam satu waktu.

Semuanya dikemas seperti permainan, padahal sesungguhnya mendorong proses berpikir kompleks. Tidak ada tekanan, tidak ada nilai, hanya kegembiraan, namun dampaknya nyata.

"Anak-anak butuh ruang untuk salah, mencoba lagi, dan merasa berhasil dengan cara mereka sendiri. Bermain adalah tempat terbaik untuk itu," ujar Cedric Roose, General Manager, India and Emerging Asia Markets, The Lego Group di Jakarta, Jumat (13/6).

Tahun ini, Lego juga memperkenalkan seniman tekstil Mang Moel sebagai Playmaker, sosok yang menggambarkan bagaimana kreativitas masa kecil bisa menjelma jadi karier dan karya dewasa. Dia dikenal dengan instalasi modular berbahan kain dan benang, hasil dari eksplorasi sejak dini dengan permainan dan kerajinan.

Kisah Mang Moel, bersama tiga Play Champions lainnya, menjadi pengingat bahwa bermain bisa membentuk karakter, bukan hanya mengisi waktu.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore