alexametrics

Pekerja Gig dan Ekonomi Gig

Oleh SHIERLY NOVALITA YAPPY*
12 Januari 2020, 13:51:25 WIB

KALAU membahas tentang perhelatan festival, kata gig, gig workers, dan freelancer jamak ditemukan. Ada yang menganggap freelancer merupakan padanan gig workers.

Tapi, benarkah demikian? Telaah etimologi dan fitur semantik memastikan bahwa pada dasarnya dua kata tersebut berbeda makna.

Serupa tapi Tak Sama

Menurut kamus etimologi daring, kata freelance diperkenalkan kali pertama pada 1820 oleh Sir Walter Scott dalam novelnya, Ivan Hoe. Freelance merupakan gabungan dua kata, yakni kata sifat free (bebas) dan kata benda lance (senjata/tombak).

Arti gabungan kata tersebut adalah senjata yang tidak di bawah sumpah untuk melayani tuan tertentu. Sejatinya freelance dipakai untuk menggambarkan prajurit perang bayaran abad pertengahan.

Lebih lanjut, pada kisaran tahun 1864, kata itu secara figuratif dimaknai sebagai sastrawan/penulis (literary man) yang tidak bekerja dengan tujuan dan lokasi yang tetap. Dan di sekitar tahun 1973, makna freelance mengalami peyorasi, yakni menjadi sebuah ungkapan tidak resmi untuk menyebut pekerja seks komersial yang tidak bekerja untuk seorang induk semang/mucikari mana pun. Saat ini freelance dimaknai positif dan diterjemahkan sebagai ”pekerja lepas”. Walau terdapat beraneka arti kata, dapat disimpulkan bahwa fitur makna dasar ”bebas” tetap melekat pada kata freelance atau ”pekerja lepas”.

Tidak jauh berbeda, pemaknaan gig, dalam gig workers, juga melewati sebuah proses pembentukan sebuah makna kata yang panjang. Kosakata gig muncul kali pertama sekitar tahun 1790 yang berarti ”kapal kecil” yang bergerak memantul berulang-ulang (bouncing).

Disinyalir pula, gig merupakan kata serapan dari bahasa Denmark ”gig” dan bahasa Jerman ”geige” yang berarti putaran yang cepat. Kemudian, menurut The Concise New Partridge Dictionary of Slang and Unconventional English (2017), di kisaran tahun 1926, gig memiliki arti sebuah pertunjukan musik ataupun keterlibatan para musisi (hanya pada satu acara/lokasi tertentu).

Baru di sekitar tahun 1908, gig dimaknai sebagai ”pekerjaan”. Terdapat tiga fitur makna dasar dari beragam arti di atas: selalu bergerak, cepat, dan tidak permanen.

Lalu, mengapa freelancer bukanlah padanan kata yang tepat untuk gig workers? Gig economy, sebagai naungan kosakata gig workers, merupakan sebuah sistem pasar bebas. Industri atau organisasi bersandar pada para pekerja (ahli) yang independen dalam sistem kontrak jangka pendek.

Oleh karena itu, gig workers memiliki ketiga fitur semantik yang disebut di atas. Mobilitas tinggi. Bekerja berdasarkan sistem kontrak kerja jangka pendek yang tidak permanen.

Para pekerja tidak terikat tempat tertentu. Mereka bisa bekerja di mana pun. Dan segera setelah satu kontrak kerja selesai, mereka akan berpindah tempat dengan tugas baru lainnya.

Selanjutnya, makna ”bebas” dalam freelance atau ”pekerja lepas” tidak sepenuhnya terkandung dalam gig workers. Terdapat platform daring ataupun keberadaan agen sebagai sistem ataupun pihak penyedia yang mempertemukan dan mengatur gig workers dengan institusi atau industri. Dengan demikian, fitur ”bebas” dalam kosakata ”pekerja lepas” tidak sesuai. Gig workers secara tidak langsung dikendalikan dan dikontrol pihak ketiga tersebut.

Mereka tidaklah sebebas para freelancer. Bahkan, berbeda dengan para pekerja lepas, sebagian upah terkadang harus disisihkan gig workers untuk pihak ketiga.

Era Baru dan Kesigapan Berbahasa

Gig economy diterjemahkan mesin penerjemah Google sebagai ”pertunjukan ekonomi”. Sebuah arti yang sangat menyimpang, menggelikan, dan, tentu saja, tidak tepat.

Akan tetapi, sepatutnya mesin penerjemah Google tidak bisa disalahkan. Pertama, secara akar rumpun, terjemahan itu benar. Kedua, dan yang terpenting, belum ada padanan istilah tersebut dalam pangkalan data bahasa Indonesia.

Revolusi industri 4.0 tercatat sebagai babak baru sebuah zaman yang sekonyong-konyong mengentak. Banyak perubahan terjadi di berbagai sektor kehidupan.

Bahasa, sebagai wadah sekaligus representasi nyata atas nilai-nilai sosial/budaya dan semangat zaman, adalah yang paling rentan terpengaruh. Konsep-konsep baru deras mengalir tak terbendung. Istilah gig workers hanyalah sebuah contoh kecil dari derasnya kucuran kosakata baru dalam bahasa asing, yang seakan menguji kesigapan Balai Bahasa.

Yakni, bagaimana ia menyikapi entakan disrupsi era baru ini dalam menyerap, lalu menghadirkan istilah-istilah tersebut ke dalam perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Bukanlah tugas yang ringan. Tapi toh tidak ada pilihan lain. (*)

*) Penulis mengajar di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Kristen Petra, Surabaya

Editor : Ilham Safutra


Close Ads