alexametrics

AS Gagal dan Kalah di Afghanistan

Oleh ACHMAD MUNJID *)
3 September 2021, 19:48:03 WIB

JOE Biden tak bisa menjilat ludah sendiri menyangkut ihwal penarikan pasukan AS dari Afghanistan yang bertenggat 31 Agustus 2021. Semula ia menjamin bahwa ”momen Saigon”, kalang kabut evakuasi dengan helikopter militer AS lewat atap kedutaan besarnya di Vietnam pada 1975, tak akan terulang.

Faktanya, kekacauan evakuasi di Bandara Kabul justru lebih buruk dan memalukan. Selain 20 korban tewas dalam kekacauan sebelumnya, 180 nyawa (termasuk 13 tentara AS) melayang akibat serangan ISIS-K.

Pada 8 Juli 2021, Biden menjamin bahwa sangat kecil kemungkinan pemerintah Afghanistan dengan dukungan AS akan dikalahkan Taliban. Faktanya, pemerintahan itu tunggang-langgang hanya dalam sebelas hari. Presiden Ashraf Ghani lari, kantornya diduduki milisi Taliban sambil selfie.

Biden mengklaim AS telah kembali dalam kepemimpinan global. Faktanya, bahkan anggota NATO ramai-ramai mengecam keputusan unilateral AS yang dianggap sewenang-wenang mencampakkan mitra seperjuangan dan tanggung jawab kemanusiaan.

Secara politis, Taliban kini punya kekuasaan jauh lebih besar. Secara ideologis, kemenangan ini memberi Taliban justifikasi. Taliban juga mendapat ”hadiah gratis” peralatan militer supercanggih (termasuk 150 pesawat tempur) bernilai USD 212 juta. Kelompok Islam garis keras di seluruh dunia, juga Rusia, China, dan Iran, bertepuk tangan. AS dan sekutunya saling tuding melempar kesalahan.

Dari tempat pelariannya di UEA, mantan Presiden Ghani menyalahkan ”komunitas internasional”. NATO menyalahkan AS, sementara Joe Biden menuding pemerintah dan angkatan bersenjata Afghanistan ”tak mau berjuang membela negerinya sendiri”.

Jadi, buat apa AS menghabiskan 2,26 triliun dolar selama 20 tahun? Buat apa 2.400 tentara dan 4.000 kontraktor AS serta ratusan ribu warga Afghanistan terbunuh?

Menurut Daron Acemoglu, pembangunan Negara Afghanistan rancangan AS memang gagal sejak awal. Kenapa? Di tengah 38 juta rakyat heterogen yang berbasis etnis, daerah-daerah dikuasai para tokoh militer (warlord), di luar jangkauan Kabul. Sementara pembangunan lembaga negara modern dilakukan secara top-down dan dijaga ketat oleh militer asing. Ia tak pernah menjadi bagian nyata masyarakat.

Lembaga dan aparat negara dilihat sebagai antek asing. Tanpa legitimasi publik, birokrasi akhirnya hanya berfungsi mematuhi penguasa ketimbang melayani rakyat. Sementara 90 persen berpenghasilan kurang dari USD 2/hari, korupsi pun terus merajalela.

Angkatan bersenjata Afghanistan bukan tak punya kemauan membela negaranya seperti dituduhkan Biden. Setidaknya 66.000 prajurit Afghanistan tewas! Lalu, kenapa 300.000 anggota pasukan Afghanistan yang didukung pelatihan, dana melimpah, dan senjata supercanggih AS menyerah menghadapi 65.000 milisi Taliban?

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads