
Pedagang menata daging sapi yang dia jual di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (9/11/2022). Harga daging sapi di pasar wilayah Jakarta mengalami kenaikan. Tercatat ada harga daging sapi dijual Rp 180 ribu per kg, yang merupakan angka yang pernah tercapai jelang
SUDAH sebulan Lebaran berlalu. Liburan telah usai. Anak sekolah kembali pada kewajibannya, belajar dan sekolah. Karyawan swasta dan pegawai negeri kembali ngantor. Yang kerja mandiri mulai buka bengkel, warung makan, tempat cukur, dan sebagainya. Kehidupan sehari-hari kembali normal.
Hanya, mungkin ada yang makin mumet (pusing) menjalani hari-hari pasca-Lebaran. Utamanya emak-emak yang menghadapi kenyataan di pasar. Harga-harga tidak turun, bahkan sebagian malah melonjak.
Harga daging sapi di Pasar Semolowaru, Surabaya, sekitar Rp 120 ribu/kg. Memang sudah turun jika dibandingkan harga menjelang Lebaran yang mencapai Rp 130 ribu/kg. Namun, belum kembali ke harga ’’normal’’ (sebelum Lebaran), yakni Rp 100 ribu/kg. Bukan cuma harga daging yang membuat emak-emak mumet, tapi juga harga telur, gula, sampai cabai.
Karena itu, emak-emak dituntut lebih cerdas mengolah dan menyiasati kondisi tersebut guna memenuhi makanan penuh gizi dan nutrisi bagi keluarganya. Mereka tidak boleh betul-betul mumet. Sebab, kalau sampai pusing hebat, mereka malah tidak bisa berpikir.
Menurut sebagian ’’orang pasar’’, harga-harga itu belum mau turun karena berbagai faktor. Di antaranya, menjelang dan sesudah Hari Raya Kurban (Idul Adha), banyak orang yang menggelar hajatan seperti pernikahan, syukuran haji, dan lain-lain. Jadi, perusahaan jasa katering perlu banyak stok bahan. Banjir di beberapa daerah –menurut sebagian ’’orang pasar’’– juga memicu kenaikan harga tersebut.
Kondisi itu turut dirasakan sebagian bapak-bapak yang menerima keluhan dari emak-emak. Tapi, biasanya bapak-bapak tidak terlalu peduli. Mereka bisa menetralisasi pikiran mumet dengan cara ngopi bareng teman atau cangkruk di tempat adem.
Yang bebas mumet mungkin hanya anak-anak. Mereka hanya harus berpikir lebih keras untuk menghadapi ulangan atau ujian sekolah yang langsung dilaksanakan setelah libur Lebaran.
Rasanya, Lebaran memang hari paling bahagia bagi anak-anak. Lebaran memang identik dengan mudik, silaturahmi, dan berbagi. Anak-anak umumnya menjadi sasaran utama dalam berbagi. Biasanya berupa angpao, amplop kecil berisi uang.
Untuk menampung angpao itu, anak-anak menyiapkan dompet besar. Karena itu, pada hari Lebaran, sering kali anak-anak terlihat ke sana-kemari sambil menenteng dompet. Itulah saat-saat bahagia bagi mereka. Pegang uang sendiri sehingga bisa puas bermain, membeli mainan atau makanan favoritnya, atau memberikan hadiah buat orang tuanya.
Tapi, angpao tidak melulu untuk anak-anak. Ketika bersilaturahmi ke Jogjakarta, ke rumah pakar komunikasi dan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana, para tamu –sekitar 50 orang– menerima goodie bag (bingkisan) yang dikemas apik. Sebagian orang juga menerima angpao. Tentu, besaran angpao itu tak seperti yang diterima anak-anak.
Bagi Dr Aqua, berbagi memang tak hanya dilakukan pada hari Lebaran. Ketika sharing komunikasi di berbagai kota, Dr Aqua hampir selalu berbagi sesuatu. Tak sedikit teman dekatnya yang mengikuti kebiasaan berbagi itu.
Tentu, berbagi tidak selalu berupa angpao. Kadang Dr Aqua mengundang beberapa orang untuk wisata ke Jogja, bermalam di rumahnya yang besar dan asri di kompleks perumahan dosen Universitas Gadjah Mada, Sawit Sari, Condong Catur, Sleman. Dia tidak tinggal di rumah itu. Ada Makti, asisten rumah tangganya, yang siap menerima tamu-tamu. Dua mobil di garasi disiapkan untuk para tamu yang memerlukan.
Hadiah lain yang biasa diberikan Dr Aqua adalah umrah gratis. Sampai saat ini, doktor lulusan Universitas Padjadjaran itu telah memberangkatkan setidaknya 167 orang dalam empat angkatan. Mereka tergabung dalam jemaah umrah the Power of Silaturrahim (POS) 1–4.
Bagi saya pribadi, perjalanan silaturahmi ke Jogjakarta itu memberi kesan mendalam. Sebab, sudah dua musim hari raya tak bisa ke mana-mana karena pandemi Covid-19. Karena itu, saat teman-teman mengajak ke Jogja, saya siap meski berjalan masih menggunakan bantuan tongkat akibat stroke.
Pergi berenam dengan mobil, kami –eks jemaah POS III– segera masuk pusaran arus balik Lebaran. Ada kesenangan di tengah kemacetan. Ada kenikmatan melihat orang-orang cangkruk di warung makan pinggir jalan. Mungkin mereka merasa merdeka setelah lama menjalani sejumlah larangan.
