
Petugas menyuntikan vaksin COVID-19 kepada pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2021). Kemenkes sejak Rabu (17/2) mulai menggelar vaksinasi bagi pedagang Pasar Tanah Abang. Sebanyak 9.729 pedagang mendapatkan jatah vaksinasi tahap pe
JawaPos.com - Hantaman besar pandemi Covid-19 sudah hampir 1 tahun di Indonesia. Kini perhatian masyarakat sudah diajak untuk fokus menyukseskan progran vaksinasi selain tentunya tetap menerapkan protokol 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai masker.
Dalam survei nasional Indikator Politik Indonesia, 'Siapa Enggan Divaksinasi? Tantangan dan Problem Vaksinasi Covid-19', Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan dalam survei terungkao bahwa mayoritas warga sadar dengan virus Korona, dan mayoritas warga pula
menilai wabah ini merupakan ancaman bagi kesehatan dan perekonomian,
baik secara nasional maupun pribadi warga. Keberadaan vaksin tentu diharapkan menjadi solusi atas merebaknya virus Korona.
Namun tantangannya, kata dia, mayoritas warga sadar bahwa pemerintah sudah memulai program vaksinasi, akan tetapi warga tidak lantas bersedia begitu saja diberi vaksin. Terutama karena alasan efek samping vaksin yang menurut warga belum dipastikan.
"Kemudian efektivitas vaksin dalam mencegah tertular virus korona, merasa sehat atau tidak membutuhkan vaksin, dan persoalan jika harus membayar atau membeli vaksin," kata Burhanuddin dalam keterangan virtual, Minggu (21/2).
Dalam mayoritas warga setuju dengan pendapat bahwa mereka menerima vaksin jika telah dinyatakan halal, 81,9 persen. Namun, sangat banyak warga yang kemudian tidak lantas bersedia divaksin (41 persen). Mengapa? Terutama karena alasan efek samping vaksin yang belum dipastikan (54,2 persen). Kemudian efektivitas vaksin (27 persen), merasa sehat atau tidak membutuhkan (23,8 persen), dan jika harus membayar (17,3 persen).
Pada kelompok yang bersedia divaksin (54,9 persen), mayoritas tidak bersedia jika harus membayar (70 persen), sekitar 23,7 persen bersedia divaksin meski harus membayar. Atau secara total sekitar 38,4 persen tidak bersedia diberi vaksin jika harus membayar atau membeli, dan hanya sekitar 13 persen yang bersedia diberi vaksin meski harus membayar atau membeli. Efektivitas vaksin dalam mencegah tertular virus Korona dipercaya oleh sekitar 53,5 persen warga, yang tidak percaya sekitar 30,3 persen, dan selebihnya tidak bisa menilai, 16,3 persen.
Kemudian, warga juga tampak tidak begitu antusias ketika membayangkan tentang vaksin Covid-19. Pada dimensi yang positif (optimistis dan penuh harap) antusias warga jauh lebih besar ketimbang pada dimensi yang negatif (takut dan cemas) terhadap vaksin. Namun, mayoritas warga cenderung berada di tengah dan ke arah level antusias yang lebih rendah terhadap vaksin, pada dimensi optimis dan penuh harap.
Tak takut tertular Covid-19
Dalam temuan juga terungkap bahwa kemungkinan besar karena mayoritas warga hanya merasa kadang-kadang, jarang atau bahkan tidak pernah merasa takut tertular virus Korona yakni sebanyak 55,1 persen. Sehingga warga tidak merasa memiliki kebutuhan mendesak untuk mendapatkan vaksin Covid-19.
Rinciannya, sangat besar kelompok yang merasa sering (33,7 persen) atau selalu takut (10,8 persen) tertular virus. Sementara mayoritas merasa kadang-kadang takut tertular (33,7 persen), jarang takut (14,9 persen) atau bahkan tidak pernah (6,5 persen) merasa takut. Hampir semua warga sudah tahu pemerintah telah memulai program vaksinasi virus Korona, 91,3 persen.
Metode Survei
Sampel sebanyak 1200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018
hingga Maret 2020. Sebanyak 206.983 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh nusantara pernah
diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang 2 tahun terakhir. Secara rata-rata, sekitar 70 persen di antaranya memiliki nomor telpon. Jumlah sampel yang dipilih secara
acak untuk ditelpon sebanyak 7.604 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 1200 responden. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki
toleransi kesalahan (margin of error-MoE) sekitar ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. (*)
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/S9c4V1FBhns
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022