
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Bupati Paser Fahmi Fadli di Jakarta, Kamis (12/2). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendesak seluruh pemerintah daerah untuk bergerak cepat menyelesaikan krisis sampah melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) atau pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa penanganan sampah kini menjadi agenda prioritas nasional. Hal ini sejalan dengan Gerakan Nasional ASRI (aman, sehat, resik, indah) yang diluncurkan Presiden pada awal Februari ini.
Hanif menyampaikan juga mengapresiasi Kabupaten Paser. Sebab, dalam waktu singkat, daerah ini dinilai sukses mengikuti arahan pusat dengan membangun fasilitas pengolahan sampah modern.
"Beliau mengikuti semua alur norma yang disampaikan oleh kementerian kepada beliau dan memastikan dalam satu tahun telah dibangun 2 RDF, 2 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang kapasitas cukup besar saya rasa dan ini kami harapkan bisa terus dikembangkan,” ujar Hanif saat menyaksikan kerja sama antara Pemkab Paser dan PT Indocement di Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Menurut Hanif, metode RDF tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang nyata bagi daerah.
"Pak Presiden mengatakan kepada kita semua untuk segera bergegas melaksanakan penyelesaian sampah. Untuk Kabupaten Paser salah satu langkah yang dipilih adalah dengan RDF atau bahan baku penghenti sampah yang ada di gunakan banyak pembakaran," tambahnya.
Lebih lanjut, Hanif menjelaskan, nilai jual dari hasil RDF bisa sangat tinggi jika memiliki bilai kalori yang tinggi. Dengan kualitas yang baik itu, pemerintah daerah tidak perlu lagi risau dengan besaran tipping fee.
"Kalau RDF-nya itu sampahnya seragam, homogen, maka nilai kalorinya akan tinggi dan tentu berkonsekuensi pada tingginya nilai jual dari RDF," tegasnya.
Bupati Paser, Fahmi Fadli, mengakui bahwa wilayahnya sempat bergelut dengan masalah sampah yang serius. Pada 2023, volume sampah di Paser menembus 121 ton per hari, sementara kapasitas TPA hanya mampu menampung 75 ton.
"Dengan kesadaran ini, kami Pemerintah Kabupaten Paser mencoba berpikir dan belajar cepat bagaimana mengelola sampah dengan memanfaatkan nilai ekonomis sampah itu sendiri. Dan konsep yang akan diterapkan adalah Zero Waste pengelolaan sampah," jelas Fahmi.
Langkah Pemkab Paser ini didukung penuh oleh sektor industri. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk telah menyiapkan infrastruktur besar untuk menyerap hasil olahan sampah tersebut sebagai bahan bakar pabrik semen mereka.
Direktur Utama PT Indocement, Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa perusahaan telah mengucurkan investasi sekitar Rp1,5 triliun untuk pengembangan fasilitas ramah lingkungan ini.
"Itu merupakan wujud komitmen kami untuk mengelola sampah dengan yang ramah lingkungan," kata Christian.
Ia optimis bahwa sinergi di Kalimantan ini akan menjadi standar baru bagi daerah lain di Indonesia dalam menangani limbah secara modern.
"Jadi ke depan mungkin ini salah satu contoh role model penanganan RDF yang paling komplit adanya di Paser, Kalimantan. Jika berjalan baik, ini akan menjadi nomor satu," imbuhnya.
