
ILUSTRASI
Sulit meringkus jenis musik yang mendefinisikan keseluruhan body of work Alm. Didi Kempot (1966-2020), yang kini dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart. Begitu banyak dan campur-aduknya jenis musik yang masuk, melebur, dan melaburi lagu-lagunya, seperti biasa kita temukan pada para pencipta besar.
TAPI kesulitan itu juga terjadi karena berbagai anomali dan kontradiksi antara apa yang kita dengar dari musiknya dan apa yang secara verbal dinyatakannya.
Jika saja Didi Kempot sukses dengan lagu “Bungkus Saja”, sebuah lagu cinta yang ceria (rilis 1993, ft. Viara R), barangkali ia akan dibuku sebagai penyanyi dangdut. Namun, justru “Stasiun Balapan”, lagu ratapan berlirik Jawa, yang melambungkannya lima tahun kemudian. Sejak itu kita mengenalnya dalam atribut berbeda. Ia identik dengan campursari atau pop Jawa. Bukan saja di mata publik, tapi juga di depan industri. Sampul-sampul kaset atau kepingan CD yang menjual namanya menjelaskannya.
Menariknya, dalam wawancara dengan Kibulin (2017), Didi Kempot mengaku tak pernah menyebut dirinya musisi campursari, meskipun menandaskan rasa hormatnya pada para maestro musik Jawa seperti Narto Sabdo, Waljinah, hingga Manthous. “Musik saya congdut—keroncong-dangdut,” tegasnya. Sayang, ia hanya bicara tentang keroncong dan kekagumannya pada Mus Mulyadi, sementara sisi dangdutnya kurang dijelaskan, meski kita dengan mudah menemukan di mana letak dangdutnya lagu-lagu Didi Kempot.
Di wawancara yang sama, meski sekilas, kita bisa temukan sisi lain yang sering terlewat ketika bicara tentang Didi Kempot: hubungannya dengan musik pop Indonesia. Ia bilang, lagu-lagu sendu ciptaannya meniru Rinto Harahap. Ia juga mengagumi cara bernyanyi Broery Pesolima yang sepenuh hati.
Pertautannya dengan musik pop menjadi lebih jelas dalam wawancaranya dengan Robert Haryanto dari Metro TV, dua tahun kemudian. Di situ Didi menyebut nama Pompi dan Arie Wibowo dengan takzim. Pompi, orang di balik hit macam “Kau dan Aku Berbeda” (Ratih Purwasih) atau “Di Puncak Hijau” (Jayanthi Mandasari), disebutnya sebagai orang pertama yang memberinya kesempatan rekaman. Sementara Arie, ngetop dengan “Madu dan Racun”, dianggap menemukan potensi dirinya pada lagu-lagu sendu. Arie jugalah yang memberikan lagu ciptaannya, “Walau Sekejap”, yang digubah ulang jadi “Sewu Kutho”, salah satu lagu yang paling identik dengan Didi Kempot.
Relasi Didi Kempot dan musik pop, lebih khusus lagi pop cengeng ‘80an, jauh dari mengejutkan. Relasi itu kentara tak terbatas pada sosok-sosoknya, tapi juga musiknya. Stasiun, terminal, atau pelabuhan, diksi dan tempat-tempat yang identik dengan lagu-lagu patah hati Didi Kempot, adalah diksi dan tempat-tempat yang juga mudah didapati pada lagu-lagu cengeng ‘80an. Simak “Kereta Senja” (Masnie Towijoyo), “Di Terminal Bis Antarkota” (Robin Panjaitan), dan “Di Batas Kota” (Tommy J. Pisa), dan rasakan feel-nya, Anda akan tahu yang saya maksud. Lagu yang disebut terakhir kemudian di-remake Didi Kempot menjadi “Wates Kutho”. Youngky RM, penciptanya, adalah juga yang yang berada di balik beberapa lagu hit Tommy J. Pisa dan Jamal Mirdad; ia juga tak terpisahkan dari mengorbitnya dua diva rock sendu awal ‘90an, Nike Ardilla dan Poppy Mercury.
Beberapa lagu Didi Kempot, terutama jadi jenis yang lebih lembut, semisal “Penyiar Radio”, “Kalung Emas”, dan “Kangen Kowe” jelas pop, sebagaimana “Sewu Kutho” dan “Wates Kutho” yang dari sononya pop. Ke-ngepop-an itu bisa diperluas jika lagu-lagu bercorak congdut dilucuti suara ukulele dan kendangnya. Saya bahkan berani menebak, suara “ouwo” di “Tanjung Mas Ninggal Janji” punya hubungan dengan “uwouwo” khas Obbie Messakh.
Barangkali karena ini, seorang teman penyuka langgam Jawa bersikeras menyebut musik Didi Kempot sebagai pop berlirik Jawa.
***
Pada lagu-lagu Didi Kempot kita bisa temukan berbagai jenis emosi dan ekspresi: cinta, sedih, rindu, marah, gembira, hingga kelakar. Misal “Kuncung” dan “Isih Kere”, Anda menemukan kemiskinan, tapi ia diungkap dengan cara gembira. Didi Kempot juga jauh dari hanya nyanyi lagu-lagu asmara, apalagi semata tentang patah hati. Ia bernyanyi tentang sosok (“Bapak”, “Den Bei”, “Pak Rebo”, “Mbak Sri”, “Pak Sopir”), tentang benda-benda (“Kumpo Angin”, “Dompet Kulit”, “Kaos Sikil”). Ia juga punya lagu-lagu bertema kritik sosial, pun lagu-lagu religi.
Pada akhirnya, lagu patah hatilah yang jadi jenamanya; “jadi rejekinya,” demikian ia bilang. Ia dikenal, dan sangat dicintai, karena lagu-lagu demikian. Dan, tampaknya, lagu-lagu jenis inilah yang kemudian melahirkan generasi baru musisi yang lima tahun terakhir mendominasi pasar musik populer Indonesia, seperti Denny Caknan, Ndarboy Geng, Abah Lala, dan masih banyak lagi.
Tak terbantahkan, Denny dkk. memandang Didi Kempot sebagai panutan sekaligus acuan. Di aras paling permukaan, Denny dkk. punya sangat banyak kemiripan dengan Didi: (nyaris semua) laki-laki, berasal dari wilayah Jawa Mataraman, lebih spesifik lagi Vorstenlanden (baca: Solo-Jogja dan sekitarnya), dan mereka menyanyi lagu-lagu patah hati.
Tapi hubungan tersebut jelas lebih dalam dari itu. Sangat gamblang bisa dirasakan bahwa “Kertonyono Medot Janji” bersanad pada “Tanjung Emas Ninggal Janji”. Bait “Bebasan ngenteni udan ning mongso ketigo” dari lagu yang sama saya kira juga berjejak pada bait “bebasan nunggu mongso rendeng” pada “Aku Cah Kerjo”-nya Pendhoza. Sementara Abah Lala, dalam sebuah wawancara, dengan emosional bahkan menyebut Didi Kempot sebagai “sing tak sayang”.
Yang sangat menarik, Denny Caknan dkk. justru disebut sebagai “generasi penerus dangdut” (lihat Michael H.B. Aditya, Laras.or.id 13/03/22; lebih lengkap lagi, baca Dangdutan [2022]). Dan saya kira pendapat ini cocok dengan anggapan banyak orang, baik publik penggemar maupun dunia musik secara umum.
