Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Maret 2026, 16.43 WIB

Seni Liburan Hemat: 9 Kebiasaan Keluarga yang Tak Pernah Menghabiskan Lebih dari 10 Juta Tapi Punya Kenangan Lebih Kaya dari Kebanyakan Orang

seseorang yang liburan bersama keluarga (Freepik/Lifestylememory) - Image

seseorang yang liburan bersama keluarga (Freepik/Lifestylememory)


JawaPos.com - Banyak orang mengira liburan yang berkesan harus mahal: hotel bintang lima, tiket pesawat promo rebutan, itinerary padat dari pagi sampai malam. Padahal, tidak sedikit keluarga yang secara konsisten menjaga anggaran liburan di bawah Rp10 juta — bahkan untuk 3–4 orang — dan tetap pulang dengan cerita yang lebih hangat, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Mereka tidak anti kemewahan. Mereka hanya paham satu hal penting: yang membuat liburan berkesan bukan harganya, tapi kualitas kebersamaan dan cara menikmatinya.

Dilansir dari Silicon Canals pada Selasa (3/3), terdapat 9 kebiasaan keluarga yang berhasil menjaga biaya tetap rasional tanpa mengurangi kualitas pengalaman.

1. Memilih Destinasi Berdasarkan Pengalaman, Bukan Gengsi

Banyak keluarga terjebak FOMO destinasi populer seperti Bali atau Singapore. Padahal, pengalaman autentik sering kali justru ditemukan di tempat yang lebih tenang dan terjangkau seperti Yogyakarta atau Malang.

Mereka bertanya:

Apa yang ingin kita rasakan?

Alam? Budaya? Kuliner? Waktu santai?

Apakah anak-anak akan menikmati ini?

Fokusnya bukan pada “kemana orang lain pergi”, tapi pada “apa yang cocok untuk keluarga kami”.

2. Memesan Lebih Awal dan Fleksibel dengan Tanggal


Keluarga hemat jarang bepergian saat peak season. Mereka:

Menghindari libur panjang nasional

Fleksibel geser 2–3 hari

Booking 2–3 bulan sebelumnya

Selisih harga tiket dan hotel bisa jutaan rupiah hanya karena memilih minggu berbeda.

3. Lebih Suka Sewa Apartemen atau Homestay daripada Hotel Mewah


Daripada 2 kamar hotel, mereka memilih:

Apartemen keluarga

Guesthouse

Homestay lokal

Keuntungannya:

Bisa masak sarapan sendiri

Ruang lebih luas

Anak-anak bebas bergerak

Lebih terasa “tinggal” bukan “menginap”

Banyak yang justru merasa pengalaman ini lebih personal dibanding hotel besar.

4. Mengatur 1–2 Aktivitas Utama Saja per Hari


Alih-alih membuat itinerary padat seperti tur agen perjalanan, mereka menerapkan prinsip: slow travel.

Misalnya:

Pagi ke pantai

Sore istirahat dan jajan lokal

Malam ngobrol santai

Bukan 6 tempat dalam 1 hari.

Hasilnya?
Anak-anak tidak kelelahan. Orang tua tidak stres. Semua lebih menikmati momen.

5. Mengutamakan Aktivitas Gratis atau Murah

Beberapa aktivitas terbaik dalam hidup itu gratis:

Piknik di taman

Main pasir di pantai

Jalan sore di alun-alun

Berburu sunrise

Di Yogyakarta misalnya, menikmati senja di alun-alun atau suasana Malioboro sering lebih membekas daripada masuk wahana mahal.

Kenangan bukan tentang tiket mahal, tapi tentang cerita yang tercipta.

6. Fokus pada Cerita, Bukan Barang


Keluarga hemat jarang belanja oleh-oleh berlebihan. Mereka mungkin membeli:

1 camilan khas

1 magnet kulkas

1 barang simbolik

Tapi yang mereka kumpulkan bukan tas belanja — melainkan foto, cerita, dan inside jokes keluarga yang akan dikenang bertahun-tahun.

7. Menyisihkan Anggaran untuk Pengalaman Lokal yang Autentik


Mereka memang hemat, tapi bukan berarti pelit pengalaman.

Daripada menghabiskan uang di restoran turis, mereka lebih memilih:

Warung lokal

Tur desa

Workshop batik

Kelas memasak tradisional

Di Bali misalnya, kelas memasak keluarga sering jauh lebih berkesan daripada makan di beach club mahal.

8. Tidak Terobsesi Konten Media Sosial


Ini kebiasaan paling penting.

Keluarga yang liburannya berkesan:

Tidak sibuk mengejar spot Instagram

Tidak stres karena foto tidak estetik

Tidak membandingkan dengan feed orang lain

Mereka hadir penuh. Kamera boleh ada, tapi bukan tujuan utama.

9. Menetapkan Batas Anggaran Sejak Awal — dan Disiplin


Mereka menentukan:

Total anggaran (misalnya Rp8–10 juta)

Transportasi maksimal sekian

Akomodasi maksimal sekian

Dana darurat

Justru karena ada batasan, mereka lebih kreatif dan bijak memilih.

Menariknya, batasan ini membuat pengalaman lebih terasa “cukup” dan tidak berlebihan.

Kenapa Liburan Hemat Justru Sering Lebih Bahagia?


Beberapa alasan psikologisnya:

1. Ekspektasi Lebih Realistis

Ketika tidak mengeluarkan uang besar, tekanan untuk “harus sempurna” berkurang.

2. Fokus pada Hubungan

Tanpa distraksi kemewahan, yang tersisa adalah percakapan dan kebersamaan.

3. Lebih Banyak Momen Spontan

Karena tidak terlalu terikat jadwal mahal, mereka lebih fleksibel menikmati hal kecil.

Contoh Simulasi Liburan Keluarga 4 Orang di Bawah 10 Juta


Misalnya 4 hari 3 malam ke Malang:

Transport PP: Rp3–4 juta (pesawat promo atau kereta)

Homestay: Rp2–3 juta

Makan: Rp2 juta

Tiket wisata: Rp1 juta

Oleh-oleh & cadangan: Rp1 juta

Total: ± Rp9 juta

Dan yang didapat?
Foto keluarga tertawa, anak-anak bermain bebas, percakapan panjang tanpa gangguan pekerjaan.

Kesimpulan: Liburan Bukan Soal Mahal, Tapi Soal Makna


Keluarga yang tidak pernah menghabiskan lebih dari Rp10 juta untuk liburan bukan berarti membatasi kebahagiaan mereka. Justru sebaliknya — mereka menghilangkan distraksi yang tidak perlu.

Mereka sadar:

Anak-anak tidak mengingat harga hotel.

Pasangan tidak mengingat harga tiket.

Yang diingat adalah momen ketika semua tertawa bersama.

Liburan hemat bukan tentang pelit.

Liburan hemat adalah seni memilih apa yang benar-benar penting.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore