
Ilustrasi seorang yang suka oversharing di media sosial beserta risiko dan bahaya yang mengintai mereka.
JawaPos.com - Jika Anda pernah menemukan seseorang di media sosial yang tampaknya selalu online, tetapi tidak pernah memposting apa pun, Anda pernah bertemu dengan seorang pengintai. Pengguna media sosial ini adalah jenis yang unik. Mereka mengamati, membaca, tetapi mereka jarang terlibat secara aktif.
Kita semua tahu bahwa orang menggunakan media sosial dengan berbagai cara dan mengintai tidak terkecuali. Ini bukan masalah preferensi, tetapi seringkali merupakan sifat psikologis. Menjalin hubungan dengan pengintai media sosial terkadang terasa membingungkan, bahkan membuat frustrasi.
Memahami perilaku mereka bisa menjadi tantangan, tetapi psikologi menawarkan beberapa wawasan yang menarik. Dikutip dari geediting pada Selasa (21/1) , berikut adalah pengantar tentang perilaku yang biasanya ditampilkan oleh orang-orang yang mengintai di media sosial, tetapi tidak pernah memposting. Tujuannya adalah untuk membantu Anda memahaminya dengan lebih baik.
1) Pengamat, bukan peserta
Salah satu ciri utama orang yang mengintai di media sosial, menurut psikologi, adalah mereka lebih sebagai pengamat daripada partisipan. Mereka mungkin menghabiskan banyak waktu untuk menelusuri feed, membaca postingan, dan komentar, tetapi mereka jarang terlibat secara aktif. Mereka puas dengan diam-diam menyaksikan dunia media sosial berlalu tanpa merasa perlu berkontribusi pada kebisingan. Ini tidak berarti mereka acuh tak acuh atau tidak tertarik. Faktanya, mereka mungkin sangat tertarik dengan apa yang terjadi di feed mereka.
Mereka hanya memilih untuk tidak mengungkapkannya secara terbuka. Pengintai media sosial dapat menikmati rasa koneksi dan komunitas tanpa tekanan atau potensi kecemasan yang muncul saat memposting dan berinteraksi. Mereka merasa nyaman di latar belakang, menerima semuanya tanpa menjadi sorotan. Dalam arti tertentu, bersembunyi bisa menjadi bentuk perlindungan diri, memungkinkan orang untuk tetap mendapat informasi dan terhubung sambil meminimalkan potensi umpan balik negatif atau konflik. Tapi itu juga bisa membuat orang lain bertanya-tanya tentang kesunyian mereka, yang berpotensi mengarah pada salah tafsir atau asumsi tentang perilaku mereka. Memahami dinamika ini dapat membantu dalam menavigasi hubungan dengan pengguna media sosial ini.
2) Tingkat empati yang tinggi
Berlawanan dengan apa yang diharapkan, pengintai media sosial seringkali memiliki tingkat empati yang tinggi. Mereka mungkin tidak terlibat dengan postingan atau komentar, tetapi itu tidak berarti mereka tidak terhubung secara emosional dengan apa yang mereka lihat. Lurker seringkali sangat sensitif terhadap perasaan dan pengalaman orang lain. Mereka mungkin memilih untuk tidak membagikan atau mengomentari kiriman karena mereka menyadari potensi dampak dari kata-kata mereka. Mereka sadar akan kekuatan media sosial dan memilih untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dalam banyak kasus, pengintai mungkin menghabiskan waktu untuk merenungkan konten yang mereka konsumsi, berempati dengan emosi dan pengalaman yang dibagikan oleh orang lain. Perenungan yang tenang ini sering kali luput dari perhatian karena tidak diterjemahkan menjadi suka, komentar, atau berbagi. Namun, keterlibatan emosional yang mendalam ini merupakan bagian penting dari pengalaman media sosial mereka-hubungan diam-diam yang membawa bobot dan makna bagi mereka. Meskipun mereka mungkin tampak terpisah atau tidak terlibat, lurker sebenarnya bisa menjadi salah satu pengguna yang paling banyak berinvestasi secara emosional di platform media sosial.
3) Kebutuhan akan privasi dan kontrol
Pengintai media sosial sering kali menghargai privasi dan kendali mereka atas kepribadian online mereka. Perilaku ini terkait dengan konsep psikologis penentuan nasib sendiri, di mana individu berusaha mengendalikan lingkungannya untuk memastikan otonomi dan kemandirian mereka. Dengan memilih untuk tidak memposting, lurker mempertahankan kendali atas apa yang diketahui orang lain tentang mereka. Mereka dapat mengonsumsi konten, mengikuti tren, dan berteman, semuanya dengan tetap mempertahankan tingkat anonimitas yang sering diabaikan oleh poster aktif.
Kebutuhan akan privasi ini juga bisa menjadi cara untuk menghindari potensi konflik atau interaksi negatif. Dengan tidak membagikan informasi atau pendapat pribadi, mereka meminimalkan risiko menarik perhatian atau kontroversi yang tidak diinginkan. Sementara banyak pengguna media sosial berkembang pesat dalam pertukaran ide dan informasi, pengintai media sosial menemukan kepuasan dalam menjaga privasi mereka, hanya mengungkapkan apa yang mereka pilih, dan mengendalikan citra online mereka dengan cermat.
4) Kenyamanan keheningan
Bagi banyak dari kita, diam bisa membuat tidak nyaman, bahkan menakutkan. Namun bagi para pengintai media sosial, diam adalah bentuk komunikasi pilihan mereka. Di ruang sunyi inilah mereka menemukan kenyamanan, rasa damai di dunia media sosial yang ramai. Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menavigasi lanskap digital. Bagi sebagian orang, ini tentang berbagi setiap momen, setiap pikiran. Bagi orang lain, seperti pengintai kita, ini tentang mengamati dengan tenang, memperhatikan momen dan pikiran orang lain.
