Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Januari 2025, 20.05 WIB

Dampak Orang Tua Pilih Kasih, Psikolog Ungkap Anak Akan Mengalami Ini Ketika Dewasa

Ilustrasi Ayah dan anak. - Image

Ilustrasi Ayah dan anak.

JawaPos.com - Dampak orang tua yang pilih kasih terhadap anak tidak main-main. Ayah dan Bunda harus sadar betul bahwa menaruh kasih sayang lebih besar kepada salah satu anak bukanlah sikap yang bijak.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa tidak bisa dipungkiri memang banyak orang yang melakukan favoritisme atau lebih condong menyukai satu anak ketimbang yang lain.

Menurut laman The Sun, sebuah studi American Psychological Association mengungkap beberapa faktor yang menyebabkan orang tua pilih kasih atau menyukai salah satu anak saja.

Dari analisis yang melibatkan 30 studi serta 14 basis data yang memuat informasi lebih dari 19.000 orang, ditemukan bahwa urutan kelahiran, jenis kelamin, dan temperamen mempengaruhi favoritisme terhadap anak.

Selain faktor tersebut, peneliti juga melihat interaksi positif maupun negatif serta perlakuan orang tua kepada si buah hati secara keseluruhan. Lalu, anak seperti apa yang mendapat kasih sayang lebih banyak?

1. Anak Emas Tak Selalu yang Termuda dan Tertua

Bukan perkara usia yang menjadikan si buah hati dijadikan anak emas oleh orang tuanya. Dr. Ellen Weber Libby, seorang psikolog klinis menyebutkan bahwa hal ini bisa tergantung pada keadaan.

Contohnya, satu anak lebih memahami emosi orang tuanya dan mau untuk membantu pekerjaan rumah. Alhasil, orang tua akan lebih ingin menghabiskan waktu bersama anak tersebut.

Selain itu sebagai contoh lain, bisa jadi ketika orang tua melihat salah satu anak, sosoknya mengingatkan pada seseorang yang dicintai namun telah pergi untuk selamanya seperti nenek. Ini juga memicu favoritisme.

2. Dampak Buruk Orang Tua Pilih Kasih

Sebelumnya sudah disinggung bahwa favoritisme terhadap anak bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana. Menurut ahli sekalipun, ini dapat membawa dampak buruk bagi si buah hati.

Dr. Weber Libby mengatakan, kelak anak yang merasa tidak disukai akan lebih mendapat kesulitan ketika mereka beranjak dewasa.
Hal ini pun senada dengan ungkapan Dr. Alexander Jensen, profesor madya dari Universitas Brigham Young.

"Mereka cenderung lebih sering mendapat masalah di sekolah dan di rumah," ucap Dr. Jensen, dikutip dari The Sun (20/01/25)z

Di samping itu, Dr. Jensen juga menyebut ada risiko kesehatan mental yang buruk dan juga tidak harmonisnya hubungan keluarga.

Lebih lanjut, di sisi lain pun anak yang cenderung disayang tidak selalu tumbuh menjadi pribadi lebih baik. Tetap ada kemungkinan mereka kesulitan di masa depan karena terlalu dimanja.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore