Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Januari 2025, 00.41 WIB

Fenomena Inner Child di Media Sosial: Tren atau Kebutuhan Psikologis yang Perlu Anda Pahami

Ilustrasi sisi anak-anak. (freepik/rawpixel.com) - Image

Ilustrasi sisi anak-anak. (freepik/rawpixel.com)

JawaPos.com - Dalam ilmu Psikologi, inner child adalah komponen yang sewajarnya ada dalam setiap individu yang membentuk karakter seseorang dan dapat dipengaruhi oleh pengalaman baik ataupun buruk pada masa kecil.

Namun, pengalaman masa kecil yang negatif sering kali menyebabkan seseorang secara tidak sadar memiliki inner child yang terluka sehingga mengakibatkan hal tersebut membekas dalam dirinya hingga ia beranjak dewasa. Hal ini pun menyebabkan rasa sakit yang terpendam yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perilaku dan tindakan seseorang saat dewasa.

Inner child dalam bahasa psikologi dapat disebut sebagai ACEs (Adverse Childhood Experiences). Seiring bertambahnya usia, biasanya seseorang akan mengalami pertumbuhan, baik secara mental maupun fisik. Namun, terdapat beberapa aspek dalam diri yang tidak ikut berkembang menjadi dewasa dan tetap dipertahankan yakni salah satunya adalah sisi kanak-kanak (inner child).

Setiap individu memiliki perjalanan hidup yang unik, dengan pengalaman yang dapat menimbulkan luka dan tantangan. Luka masa kecil dapat berdampak negatif pada karakter di masa dewasa, termasuk dalam mengambil keputusan dan berinteraksi sosial. Penting untuk mengenali dan berhubungan dengan inner child agar memahami pengaruh pengalaman masa kecil.

Dilansir dari laman Hellosehat.com, berikut beberapa penyebab inner child di dalam diri terluka, antara lain:

- Kehilangan orang tua atau wali dan keluarga dekat.
- Kekerasan fisik, emosional, atau seksual.
- Pengabaian.
- Penyakit serius.
- Perundungan atau bullying.
- Gempa bumi.
- Perpecahan dalam keluarga.
- Ada anggota keluarga yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
- Kekerasan dalam rumah tangga.
- Ada anggota keluarga yang memiliki gangguan mental.
- Hidup di pengungsian.
- Terpisahkan dari keluarga.

Jika pernah mengalami salah satu kondisi di atas dan harus menghadapinya sendiri, maka kemungkinan inner child yang terdapat di dalam diri anda mungkin sedang terluka.

Sisi anak-anak dalam diri yang sedang terluka dapat dilihat dari cara pandang terhadap dunia. Jika Anda merasa dunia tidak aman, mungkin ada trauma masa kecil yang memengaruhi.

Dilansir dalam laman yang sama berikut tanda-tanda inner child yang perlu anda perhatikan antara lain:

• Merasa ada yang salah dengan diri sendiri.
• Berusaha menyenangkan orang lain.
• Terkadang senang saat bermasalah dengan orang lain.
• Sulit move on dari orang lain.
• Merasa cemas menghadapi hal baru.
• Rasa bersalah saat memberi batasan.
• Berusaha jadi yang terdepan.
• Perfeksionis.
• Kesulitan memulai dan menyelesaikan tugas.
• Mengkritik diri sendiri.
• Malu menunjukkan perasaan.
• Malu dengan penampilan tubuh.
• Curiga terhadap orang lain.
• Menghindari konflik.
• Takut ditinggalkan.

Lalu bagaimana cara penyembuhan inner child yang terluka ini? Proses penyembuhan inner child yang terluka membutuhkan waktu. Seseorang yang memiliki luka membekas dari pengalaman atau trauma masa lalu dapat melakukan beberapa cara mengatasinya.

Dilansir dari laman Siloamhospitals.com, berikut beberapa upaya penyembuhannya:

1. Memahami trauma masa kecil

Langkah pertama untuk menyembuhkan inner child yang terluka adalah mengenang pengalaman masa lalu yang menyakitkan. Setiap orang memiliki penyebab luka yang berbeda, jadi penting untuk berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater untuk mengetahui trauma di masa kecil dan cara mengatasinya.

2. Menerima inner child

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore