
Ilustrasi perceraian. (Vecteezy)
JawaPos.com - Perceraian, meski sering dianggap sebagai pilihan terakhir dalam sebuah pernikahan, bisa menjadi langkah yang membawa dampak besar pada kesehatan mental. Dalam pernikahan yang sudah tidak sehat, perceraian sering kali dianggap sebagai solusi terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan emosional.
Seperti kabar yang baru ini berembus terkait gugatan cerai Sherina Munaf ke suaminya Baskara Mahendra yang menuai sorotan publik, hal ini sudah dikonfirmasi oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan, pada Jumat (17/1).
Berkaca dari hal ini, sebuah studi menunjukkan bahwa perceraian dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, terutama bagi wanita yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya. Namun, apakah perceraian benar-benar selalu membawa dampak yang sepenuhnya positif? Mari kita telusuri lebih dalam.
Dampak Positif Perceraian pada Kesehatan Mental
Dikutip dari Charlie Health, perceraian memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan mental, terutama bagi mereka yang terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia. Melansir sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2009 dalam artikel Charlie Health menunjukkan bahwa orang yang tidak bahagia dalam pernikahannya dan memilih untuk bercerai, umumnya mengalami kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Hal ini terutama berlaku bagi perempuan, yang menunjukkan peningkatan kesejahteraan mental setelah perceraian. Bahkan, menurut studi tersebut, kesejahteraan psikologis lebih meningkat lagi jika mereka menikah kembali setelah perceraian.
Namun, tak hanya perempuan, studi lainnya yang diungkap dalam artikel Charlie Health juga mengungkapkan bahwa pria yang memutuskan untuk bercerai bisa merasakan efek positif serupa, meskipun dampaknya mungkin sedikit berbeda antara pria dan wanita.
Dampak Negatif Perceraian pada Kesehatan Mental
Meski terdapat manfaat, perceraian juga dapat membawa dampak negatif pada kesehatan mental. Dilansir dari Psychology Today, studi-studi terbaru menunjukkan bahwa efek fisik dari perceraian bisa bertahan lama, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya.
Mengutip hasil penelitian yang dijelaskan Psychology Today dalam Journal of Men’s Health mengungkapkan bahwa individu yang bercerai, baik pria maupun wanita, memiliki tingkat kematian, depresi, dan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tetap menikah.
Para peneliti, Linda J. Waite dari University of Chicago dan Mary Elizabeth Hughes dari Johns Hopkins University, menyebutkan bahwa orang yang bercerai memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan jangka panjang, seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan masalah metabolisme lainnya. Bahkan, mereka juga lebih berisiko mengalami gangguan mobilitas, seperti kesulitan berjalan atau menaiki tangga.
Dampak Jangka Panjang untuk Pria dan Perempuan
Studi lain masih dalam artikel Psychology Today juga menunjukkan bahwa pria memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi setelah bercerai dibandingkan dengan pria yang tetap menikah. Risiko mereka terhadap serangan jantung dan stroke juga meningkat.
Pria umumnya memiliki dukungan sosial yang lebih sedikit dibandingkan perempuan, dan kehilangan teman-teman yang mendukung mereka bisa memperburuk keadaan ini, sehingga meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius.
Untuk perempuan, perceraian bisa meningkatkan risiko serangan jantung, terutama jika mereka mengalami lebih dari satu perceraian. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Matthew Dupre dari Duke University dikutip dari artikel Psychology Today mengungkapkan bahwa wanita yang bercerai sekali mengalami peningkatan risiko serangan jantung sebanyak 24 persen, sedangkan perempuan yang bercerai lebih dari sekali mengalami peningkatan risiko hingga 77 persen.
