
Ilustrasi orang yang tumbuh tanpa cinta dari orang tua di masa kecil./Freepik.
JawaPos.com - Masa kecil yang penuh dengan kasih sayang adalah dasar bagi perkembangan emosional yang sehat.
Namun, bagi sebagian orang, tumbuh tanpa cinta dan perhatian yang cukup dapat meninggalkan bekas yang mendalam.
Ketika seseorang tidak merasa dicintai saat kecil, dampaknya sering kali terbawa hingga dewasa, di mana ini akan membentuk pola perilaku yang sulit untuk diubah.
Ini bukan hanya tentang rasa kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar berinteraksi dengan dunia dan orang lain di sekitar kita.
Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa kebiasaan yang sering kali berkembang pada orang yang tidak merasakan cinta yang cukup di masa kecil.
Kebiasaan-kebiasaan ini bisa mempengaruhi hubungan, rasa percaya diri, dan cara mereka dalam menghadapi tantangan hidup.
Dilansir dari laman Personal Branding Blog pada Rabu (15/1), berikut merupakan 8 kebiasaan yang dimiliki oleh orang yang tumbuh tanpa cinta dari orang tua di masa kecil.
1. Sulit Membentuk Hubungan
Orang yang tidak merasa dicintai saat kecil sering kali menghadapi tantangan besar dalam membentuk hubungan yang sehat saat mereka dewasa.
Mereka tidak memiliki pengalaman cinta yang tulus sebagai referensi, sehingga sulit untuk memahami bagaimana hubungan yang baik seharusnya berlangsung.
Akibatnya, mereka cenderung membangun dinding emosional untuk melindungi diri dari kemungkinan terluka. Beberapa dari mereka bahkan menjauh dari orang lain, dan memiliki ketakutan akan terlalu dekat dan merasa rentan.
Sebaliknya, ada juga yang menjadi terlalu lengket atau membutuhkan perhatian terus-menerus pada orang lain karena takut kehilangan orang yang mereka sayangi. Semua ini sering kali didasarkan pada luka emosional yang mereka alami sejak kecil.
2. Masalah Kepercayaan Diri
Ketika seorang anak tumbuh tanpa merasakan cinta atau penghargaan, mereka cenderung meragukan nilai dirinya sendiri.
Mereka akan cenderung berpikir, "Jika orang tua saya tidak mencintai saya, apa ada yang salah dengan saya?" Pemikiran ini sering mengakar hingga mereka dewasa, yang membuat mereka sulit untuk menerima pujian atau menghargai pencapaian diri sendiri
