Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Januari 2025, 19.40 WIB

Luka Batin Masa Kecil yang Terlupakan, Membentuk Kepribadian Dewasa Menurut Psikologi

Ilustrasi anak kecil tampak murung. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak kecil tampak murung. (Freepik)

JawaPos.com - Masa kecil, periode emas dalam kehidupan, seharusnya dipenuhi tawa, kehangatan, dan rasa aman. Namun, bagi sebagian orang, masa kecil justru diwarnai pengalaman traumatis akibat pengabaian emosional. Luka batin ini, meski tak terlihat, dapat membekas dan memengaruhi kepribadian hingga dewasa.

Pengabaian emosional, satu diantara bentuk kekerasan psikologis, terjadi ketika kebutuhan emosional anak tidak dipenuhi secara konsisten oleh orang tua atau pengasuh. Anak yang diabaikan merasa tidak didengar, tidak dipedulikan, dan tidak dihargai keberadaannya. Perasaan ini dapat memicu berbagai masalah emosional dan perilaku di kemudian hari.

Dampak pengabaian emosional pada masa kecil sangat beragam. Anak-anak yang mengalami pengabaian cenderung tumbuh menjadi individu dengan rasa percaya diri rendah.

Akibatnya menyebabkan kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat, dan rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Mereka mungkin juga mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat, seperti menarik diri dari pergaulan atau justru mencari perhatian secara berlebihan.

Sebuah artikel yang dipublikasikan di Parade.com, membahas ciri-ciri orang yang terlalu diabaikan saat kecil menurut psikolog. Artikel ini menyoroti bagaimana pengalaman masa kecil yang kurang ideal dapat membentuk pola perilaku dan emosi seseorang di masa dewasa.

Dikutip dari Parade.com, pengabaian emosional dapat meninggalkan bekas luka yang mendalam. Satu di antara dampak signifikan dari pengabaian masa kecil adalah kesulitan dalam mengatur emosi.

Individu yang diabaikan seringkali merasa kesulitan mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi mereka secara sehat. Mereka mungkin merasa kewalahan oleh emosi yang kuat atau justru mati rasa secara emosional.

Selain kesulitan mengatur emosi, individu yang mengalami pengabaian masa kecil juga cenderung memiliki harga diri yang rendah. Mereka meragukan nilai diri mereka dan merasa tidak pantas dicintai atau dihargai.

Hal ini dapat memengaruhi hubungan mereka dengan orang lain dan kemampuan mereka untuk mencapai potensi penuh mereka. Kesulitan membangun hubungan yang sehat juga menjadi tantangan bagi individu yang diabaikan saat kecil. Mereka mungkin kesulitan mempercayai orang lain, takut akan keintiman, atau justru terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan manipulatif.

Pola hubungan yang tidak sehat ini seringkali merupakan pengulangan dari dinamika keluarga yang mereka alami di masa kecil. Dampak lain yang mungkin timbul adalah perfeksionisme yang berlebihan. Individu yang diabaikan mungkin merasa perlu untuk selalu sempurna agar mendapatkan validasi dan penerimaan dari orang lain.

Perfeksionisme ini dapat memicu stres, kecemasan, dan rasa tidak pernah cukup. Selain itu, individu yang mengalami pengabaian masa kecil juga rentan terhadap perilaku people-pleasing. Mereka berusaha keras untuk menyenangkan orang lain dengan harapan mendapatkan cinta dan penerimaan yang tidak mereka dapatkan di masa kecil.

Perilaku ini dapat membuat mereka kehilangan jati diri dan rentan dimanfaatkan orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa luka batin masa kecil bukanlah vonis seumur hidup.

Dengan kesadaran diri, dukungan yang tepat, dan terapi yang profesional, individu yang mengalami pengabaian emosional dapat memproses trauma mereka, membangun kembali harga diri, dan menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.

Proses penyembuhan luka batin membutuhkan waktu dan kesabaran. Penting untuk bersikap lembut pada diri sendiri dan mencari dukungan dari orang-orang terpercaya. Terapi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu individu memahami akar permasalahan mereka dan mengembangkan strategi koping yang sehat.

Membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri dan orang lain merupakan bagian penting dari proses penyembuhan. Belajar untuk mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya, serta membangun batasan yang sehat dalam hubungan, dapat membantu memulihkan luka batin masa kecil.

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore