Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Januari 2025, 17.49 WIB

Sering Merasa Kebiasaan Buruk Lebih Mudah Dilakukan Kembali? Begini Penjelasannya dalam Psikologi

Ilustrasi seseorang yang meletakkan kepalanya di meja yang berantakan (wayhomestudio/freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang meletakkan kepalanya di meja yang berantakan (wayhomestudio/freepik)

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sulit sekali menghilangkan kebiasaan buruk, meski sudah berulang kali mencobanya?

Ditambah juga, kebiasaan buruk seolah lebih mudah kembali ketika Anda sudah berusaha membangun kebiasaan yang lebih baik.

Fenomena ini bukan alasan, dengan pendekatan psikologis, mari mengetahui lebih lanjut tentang alasan di baliknya.

Melansir dari Comentra, Anda perlu memahami lingkaran kebiasaan. Lingkaran tersebut memuat tiga bagian, antaranya pemicu, perilaku dan imbalan.

Dalam lingkaran kebiasaan, pemicu dan imbalan memiliki sifat saling berkaitan dan mendorong perilaku untuk mendapatkan sebuah imbalan.

Sebagai bagian dari imbalan, kita biasanya mendapatkan dorongan dopamin dari otak untuk merasa senang.

Nah, dopamin ini dilepaskan ketika kita menikmati sesuatu, seperti makanan yang kita sukai, melakukan hobi, juga aktivitas menyenangkan lainnya.

Imbalan rasa senang yang kuat tersebut menggerakkan diri kita untuk melakukan sebuah perilaku. Inilah mengapa kebiasaan buruk terasa begitu mudah dilakukan.

Yang perlu digaris bawahi adalah semakin sering kita mendapatkan dopamin, semakin besar kemungkinan kita untuk terus mengulangi kebiasaan yang memberikan imbalan tersebut.

Dengan kebiasaan buruk, imbalan dopamin akan datang secara instan. Berbeda dengan kebiasaan buruk yang dorongan dopaminnya lebih sedikit, karena tidak memberikan kesenangan yang sama.

Adapun faktor lain yang dapat Anda ketahui untuk menjelaskan mengapa kebiasan buruk mudah dilakukan kembali. Berikut beberapa poinnya dilansir dari Success.

Pola Otak yang Terbentuk

Semakin sering suatu kebiasaan dilakukan, semakin kuat jalur saraf otak yang terkait dengan kebiasaan tersebut.

Maka, ketika Anda sering melakukan kebiasaan buruk, jalur saraf tersebut berarti sangat mudah untuk diakses.

Sehingga, otak Anda akan lebih mudah mengulang pola kebiasaan buruk tersebut secara otomatis ketimbang kebiasaan baik yang jarang dilakukan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore