Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Januari 2025, 03.32 WIB

Terkuak! Alasan Psikologis Orang Berkomentar Jahat di Media Sosial

Ilustrasi seseorang yang senang menikmati media sosial. (Istimewa) - Image

Ilustrasi seseorang yang senang menikmati media sosial. (Istimewa)

JawaPos.Com – Bermain media sosial, membuat kita akan bertemu dengan berbagai warganet dengan komentar beragam. Ada yang berkomentar positif, ada juga warganet yang sering berkomentar negatif. Tak jarang, warganet yang berkomentar negatif juga kerap kali melontarkan perkataan-perkataan jahat yang menyakitkan dan merusak mental.

Kira-kira, apa penyebab seseorang bisa berkomentar jahat di media Sosial? Dilansir dari Havok Journal, Minggu (12/1), berikut adalah alasan secara psikologi kenapa orang suka berkomentar jahat di media sosial.

Butuh validasi dan kurangnya percaya diri

Orang yang iri, kurang percaya diri, dan suka membandingkan dirinya dengan orang lain, akan lebih mudah untuk berkomentar jahat di media sosial.

Orang yang kurang percaya diri, terutama bagi yang suka dibully di kehidupan nyata, akan merasa dirinya lebih baik jika sudah menjatuhkan orang lain.

Selain itu, menjatuhkan orang lain dengan berkomentar jahat juga membuat orang lain lebih mudah mendapatkan validasi. Sebab, orang yang berkomentar jahat, pasti akan mendapat atensi dari orang-orang yang membela si korban yang sudah mereka jatuhkan.

Semakin banyak yang mengomentarinya, maka orang itu akan semakin senang. Orang-orang seperti ini umumnya akan sulit berempati dan merasakan perasaan orang lain.

Deindividuasi adalah fenomena psikologis di mana seseorang kehilangan identitas dirinya dalam suatu kelompok atau situasi tertentu.

Di media sosial, anonimitas memungkinkan individu untuk terlepas dari identitas nyata mereka, mengurangi rasa tanggung jawab, dan bahkan menghilangkan empati terhadap orang lain.

Kurangnya interaksi tatap muka dan konteks dalam komunikasi online dapat membuat orang lain terlihat seperti objek dan bukan manusia, sehingga lebih mudah bagi individu untuk menyebarkan ujaran kebencian tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Fenomena Deindividuasi

Deindividuasi merupakan fenomena psikologis di mana seseorang kehilangan identitas dirinya. Saat seseorang mengalami fase ini, maka mereka akan cenderung untuk melakukan sesuatu secara anonim.

Sementara di media sosial, orang memungkinkan untuk menggunakan identitas anonim dalam berkomentar. Identitas anonim akan membuat orang tidak akan memiliki rasa empati dan tanggung-jawab terhadap orang lain.

Apalagi, jika hal itu dilakukan di media sosial yang tidak ada interaksi tatap muka. Orang akan lebih mudah melakukan ujaran kebencian tanpa memikirkan dampaknya ke orang lain.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore