
Ilustrasi dampak dari perselingkuhan. (Freepik)
JawaPos.com – Mengapa seseorang tega mengkhianati kepercayaan pasangannya? Pertanyaan ini memunculkan berbagai spekulasi dan analisis, salah satunya melalui pendekatan psikologis.
Artikel ini akan membahas enam tanda seseorang berpotensi menjadi selingkuh kronis, berdasarkan tinjauan psikiater.
Satu di antara aspek penting yang perlu dipahami adalah bahwa perselingkuhan sering kali bukan sekadar tindakan impulsif sesaat.
Lebih dari itu, perselingkuhan dapat menjadi manifestasi dari masalah psikologis yang lebih dalam. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Edward Ratush, salah satu pendiri SohoMD.
Menurut Dr. Ratush, dikutip dari Verywell Mind, Kamis (9/1), perselingkuhan kronis dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi perilaku.
Tindakan ini merupakan jendela untuk memahami emosi yang mendasari, dorongan untuk menciptakan kembali trauma masa lalu, penghindaran keintiman emosional, dan rendahnya harga diri. Ini enam tandanya.
Waspadai kebohongan, terutama yang berkaitan dengan keintiman. Para pelaku selingkuh seringkali berbohong kepada pasangannya tentang prioritas keintiman mereka.
Mereka menyembunyikan fakta bahwa keinginan akan hal baru dalam hubungan seksual dan/atau kompulsi seksual adalah akar dari tindakan mereka.
Kebohongan ini bukan hanya sekadar menutup-nutupi perselingkuhan yang sedang berlangsung.
Lebih dari itu, kebohongan ini mencerminkan adanya disorientasi nilai dan prioritas dalam hubungan. Mereka menciptakan realitas palsu untuk menutupi tindakan mereka.
Seseorang yang pernah berselingkuh cenderung lebih mudah untuk mengulanginya. Pola perilaku ini menunjukkan adanya masalah yang belum terselesaikan dalam diri individu tersebut.
Riwayat perselingkuhan sebelumnya dapat menjadi indikator kuat adanya potensi pengulangan di masa mendatang. Hal ini bukan berarti semua orang yang pernah berselingkuh pasti akan mengulanginya, tetapi risiko tersebut patut dipertimbangkan.
Mereka yang cenderung selingkuh sering kali kesulitan membangun dan mempertahankan komitmen dalam hubungan. Mereka merasa tidak nyaman dengan keintiman dan keterikatan yang mendalam.
Ketidakmampuan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari trauma masa lalu hingga ketakutan akan kehilangan kebebasan. Mereka mencari pelarian dalam hubungan-hubungan singkat yang tidak menuntut komitmen.
Para peselingkuh kerap mencari perhatian dan pengakuan dari orang lain untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal ini bisa mendorong mereka untuk mencari hubungan di luar hubungan utama.
