
Ilustrasi bayi tersenyum. (jcomp/freepik)
JawaPos.com - Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Kondisi tumbuh kembang ini terjadi karena kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Periode emas ini, yang dihitung sejak konsepsi (pembuahan) hingga anak berusia 2 tahun (270 hari selama kehamilan + 730 hari setelah lahir), sangat krusial karena menentukan kualitas hidup anak di masa depan.
Jangan sampai salah langkah, melansir dari laman Kementerian Kesehatan dan Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, pahami pentingnya asupan gizi pada 1000 HPK untuk mencegah stunting.
Mengapa Gizi pada 1000 HPK Begitu Penting?
Dilansir JawaPos.com dari laman FK.UI.ac.id, 1000 HPK adalah jendela kesempatan pemberian gizi yang tidak boleh terlewatkan. Pada masa ini, terjadi perkembangan organ vital, pertumbuhan otak, dan fisik.
Kekurangan gizi pada periode ini dapat berdampak permanen dan sulit diperbaiki di kemudian hari. Berikut beberapa alasan mengapa gizi pada 1000 HPK sangat penting:
Optimalisasi Perkembangan Otak: 80% perkembangan otak terjadi pada 1000 HPK. Gizi yang cukup akan mendukung pembentukan jaringan otak, koneksi antar sel saraf, dan fungsi kognitif, motorik, serta sosial emosional anak.
Pembentukan Sistem Kekebalan Tubuh yang Kuat: Sistem imun bayi pada saat lahir tentu belum sempurna. Gizi yang baik, terutama ASI, berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh dan melindunginya dari infeksi.
Pertumbuhan Fisik yang Ideal: Gizi yang cukup sangat penting untuk pertumbuhan tinggi dan berat badan anak. Kekurangan gizi kronis akan menyebabkan stunting yang ditandai tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya.
Perlindungan Jangka Panjang Terhadap Penyakit: Kekurangan gizi pada 1000 HPK tidak hanya berdampak pada masa kanak-kanak, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari, seperti diabetes, penyakit jantung, dan obesitas.
Dampak Stunting yang Perlu Diwaspadai
Gangguan Kognitif: Kesulitan belajar, daya ingat rendah, dan penurunan kemampuan berpikir.
Pertumbuhan Fisik Terhambat: Tinggi badan di bawah rata-rata anak seusianya.
Rentan Terhadap Infeksi: Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat anak lebih mudah sakit.
Risiko Penyakit Kronis di Masa Dewasa: Peningkatan risiko diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan obesitas.
