
Stres dan Cemas Picu Kebiasaan Gigit Sedotan. (Alessio Cesario / Pexels).
JawaPos.com - Kebiasaan menggigit sedotan tampaknya seperti tidak memiliki makna berarti. Padahal hal tersebut dilakukan seseorang saat sedang mengalami suatu kondisi tertentu.
Dilansir dari NeuroLaunch, menggigit sedotan merupakan perilaku bawah sadar yang dilakukan tanpa berpikir. Contoh serupa misalnya ketika seseorang memutar bagian ujung rambut.
Dalam dunia psikologi, kebiasaan menggigit sedotan cukup menarik untuk dibahas dan ada teori yang menjelaskan tentang hal tersebut. Salah satunya ada teori dari Sigmund Freud, seorang neurologist.
Teori Freud mengatakan bahwa kemungkinan orang dewasa melakukan kebiasaan ini karena mencari kenyamanan atau kepuasan lewat rangsangan oral. Ini mirip dengan perilaku menghisap jempol.
Selain itu, ada alasan lain mengapa seseorang menggigit sedotan yaitu sedang mengalami cemas serta cemas.
Gigit Sedotan Sebagai Pelepas Stres dan Cemas
Laman NeuroLaunch menjelaskan mengenai banyak psikolog yang berpandangan bahwa perilaku menggigit sedotan termasuk dalam upaya melepaskan stres serta manajemen kecemasan.
Seringkali seseorang dihadapkan pada situasi penuh tekanan sehingga perlu melakukan kegiatan sederhana yang berulang, salah satunya menggigit sedotan.
Ketika melakukannya, muncul rangsangan oral yang mengakibatkan saraf jadi lebih tenang. Lebih lanjut, gihir sedotan pun membawa seseorang pada pengalaman sensorik yang membawa stimulasi guna mengatur keadaan emosional.
Faktor Lain Dibalik Kebiasaan Gigit Sedotan
Stres dan cemas bukan satu-satunya pemicu menggigit sedotan. Ada faktor lain seperti kondisi sedang berkonsentrasi dan fokus.
Apa hubungannya? Bagi sebagian orang, gigit sedotan dianggap dapat membantu dalam konsentrasi.
Seolah, rangsangan dari gigitan sedotan membuat bagian otak yang gelisah tetap sibuk, sehingga bagian otak lain bisa tetap fokus.
Dampak Menggigit Sedotan
