Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Januari 2025, 03.10 WIB

Berlebihan Menjadi Baik Ternyata Membawa Dampak Negatif Bagi Kesehatan Mental, Begini Cara Keluar dari Jebakan Psikologis Agar Hidup Lebih Autentik

Ilustrasi orang baik yang tidak tulus. (freepik) - Image

Ilustrasi orang baik yang tidak tulus. (freepik)

 
 
 
 
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar anjuran untuk menjadi orang baik. Namun, tahukah Anda bahwa usaha berlebihan untuk menjadi "baik" justru dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan mental? Dikutip dari Psychology Today, pada Selasa (7/1), sebuah artikel membahas bagaimana dorongan untuk menjadi baik dapat menjebak seseorang dalam ekspektasi yang tidak realistis.
 
Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa "kebaikan" ditentukan oleh tokoh otoritas. Kita berusaha keras untuk mendapatkan persetujuan mereka, tanpa menyadari bahwa kita sendiri memiliki hak untuk menentukan nilai-nilai hidup kita. Hal ini seringkali membawa kita pada usaha menyenangkan semua orang, yang pada akhirnya justru menjauhkan kita dari diri sendiri.
 
Artikel tersebut menjelaskan bahwa usaha untuk menjadi baik seringkali bermuara pada upaya menyenangkan orang lain secara berlebihan. Kita menjadi terlalu fokus pada ekspektasi orang lain, dan lupa untuk mendengarkan suara hati sendiri. Akibatnya, kita kehilangan jati diri dan merasa hampa.
 
Ironisnya, niat baik untuk menjadi orang baik justru dapat berubah menjadi beban psikologis. Kita merasa tertekan untuk selalu memenuhi standar yang ditetapkan oleh orang lain, tanpa memberi ruang bagi diri sendiri untuk berbuat salah atau sekadar menjadi diri sendiri. Hal ini dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi.
 
Satu diantara poin penting yang diangkat dalam artikel tersebut adalah pentingnya penerimaan diri. Alih-alih berusaha menjadi sempurna, kita perlu belajar menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Dengan menerima diri sendiri, kita dapat membangun rasa percaya diri yang sehat dan terhindar dari jebakan psikologis.
 
Penerimaan diri juga membuka jalan bagi kita untuk berbelas kasih pada diri sendiri. Kita tidak lagi menuntut diri sendiri untuk selalu sempurna, tetapi memberikan ruang untuk kesalahan dan ketidaksempurnaan. Dengan begitu, kita dapat hidup lebih tenang dan damai.
 
Artikel tersebut juga menyoroti pentingnya mengenali nilai-nilai pribadi. Alih-alih mengikuti standar kebaikan yang ditetapkan oleh orang lain, kita perlu merumuskan sendiri apa arti "baik" bagi diri kita. Dengan begitu, kita dapat hidup lebih autentik dan bermakna.
 
Merumuskan nilai-nilai pribadi juga membantu kita untuk menetapkan batasan yang sehat. Kita belajar untuk mengatakan "tidak" pada hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita, tanpa merasa bersalah atau takut mengecewakan orang lain. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan mental dan emosional kita.
 
Lebih lanjut, artikel ini menjelaskan bahwa menjadi baik bukan berarti menjadi sempurna. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan tersebut dan berusaha untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.
 
Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru merupakan bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan menerima kesalahan sebagai bagian dari diri kita, kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan matang.
 
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meninjau kembali pemahaman kita tentang "kebaikan". Apakah kita berusaha menjadi baik karena dorongan dari dalam diri, atau karena ekspektasi dari orang lain? Jawaban atas pertanyaan ini dapat membantu kita untuk keluar dari jebakan psikologis dan hidup lebih autentik.
 
Menjadi baik seharusnya didasari oleh keinginan tulus untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, bukan untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh orang lain. Dengan begitu, kebaikan yang kita lakukan akan terasa lebih bermakna dan membawa kebahagiaan yang sejati.
 
Artikel ini mengajak kita untuk merenungkan kembali makna kebaikan dalam hidup kita. Apakah kita sudah benar-benar menjadi baik pada diri sendiri, sebelum berusaha menjadi baik pada orang lain? Jawabannya mungkin akan mengejutkan kita.
 
Dengan memahami jebakan psikologis di balik usaha menjadi "baik" yang berlebihan, kita dapat belajar untuk lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Kita dapat fokus pada pengembangan diri yang sejati, bukan pada pemenuhan ekspektasi yang tidak realistis.
 
Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore