Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Januari 2025, 19.49 WIB

Seni Hidup Bodo Amat: Mengapa Orang Indonesia Suka Menghakimi Kehidupan Orang Lain?

seni bodo amat dengan apa yang dipikirkan orang lain untuk hidup bahagia menurut Psikologi - Image

seni bodo amat dengan apa yang dipikirkan orang lain untuk hidup bahagia menurut Psikologi

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa jengah dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah menilai hidupmu? Seperti, "Udah lulus, kok belum kerja?" atau "Kapan nikah? Kapan punya anak?" Rasanya, semua itu datang dari norma yang menuntut kita mengikuti jalur hidup tertentu.

Mungkin, beberapa dari kita sering mendengar nyinyiran atau bahkan membandingkan pencapaian dengan orang lain, terutama saat berada di titik transisi hidup, seperti selesai kuliah atau memulai karier.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya datang dari keluarga atau teman dekat, tetapi sering kali juga dari orang asing yang merasa berhak menghakimi kehidupan orang lain. Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya tekanan sosial yang kita rasakan, yang berfokus pada pencapaian hidup yang diukur dengan standar tertentu.

Di Indonesia, kecenderungan untuk menghakimi kehidupan orang lain tidak hanya sekadar bentuk kepedulian, melainkan juga sering kali menjadi cerminan dari pemikiran yang telah terbangun lama dalam masyarakat.

Dalam banyak kasus, kita dipaksa untuk mengikuti skema hidup yang sudah dianggap benar oleh banyak orang, seperti lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan, menikah, dan memiliki anak dalam waktu yang dianggap "normal." Jika seseorang tidak mengikuti jalur tersebut, sering kali mereka dianggap gagal atau tidak serius dalam hidup.

Dilansir JawaPos.com dari kanal Youtube @SatuPersenIndonesianLifeschool, Minggu (5/1) Fenomena ini memang mengundang pertanyaan besar: mengapa kita begitu terobsesi dengan kehidupan orang lain? Apakah ini hanya soal kebiasaan, atau ada pola pikir yang lebih dalam yang melatarbelakangi?

Pemikiran Biner: Pandangan Dunia yang Sederhana tapi Menyesatkan

Salah satu akar dari fenomena ini adalah pemikiran biner yang telah lama tertanam dalam budaya kita. Pemikiran biner ini melihat dunia dalam dua kutub: hitam dan putih, benar dan salah, sukses dan gagal.

Ketika seseorang tidak mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh masyarakat, mereka seringkali langsung dicap gagal. Misalnya, seseorang yang belum lulus dalam waktu empat tahun dianggap bodoh atau tidak serius dalam belajar. Begitu pula dengan mereka yang memilih untuk menunda pernikahan atau tidak membeli rumah dan mobil setelah menikah, langsung dicap sebagai orang yang tidak berprestasi.

Namun, pemikiran biner ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, kita dapat melihat bagaimana dunia sering dipandang dalam dua kategori yang sangat sederhana, meskipun kenyataannya kehidupan jauh lebih kompleks. Seiring berjalannya waktu, banyak ilmuwan dan filsuf yang menyadari bahwa dunia ini tidak sesederhana itu. Dunia ini penuh dengan nuansa dan ketidakpastian, dan tidak semua orang harus mengikuti jalur hidup yang sama untuk dianggap sukses.

Sejarah Pemikiran Biner: Dari Yin-Yang Hingga Kelas Sosial

Pemikiran biner ini sudah ada sejak zaman kuno. Di Tiongkok, misalnya, terdapat konsep Yin-Yang yang menggambarkan dualitas dalam kehidupan. Konsep ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki dua sisi yang saling melengkapi. Namun, meskipun konsep Yin-Yang mengajarkan keseimbangan, banyak orang yang justru terjebak dalam pandangan hitam-putih yang lebih sempit.

Hal ini semakin diperkuat dengan pemikiran yang berkembang pada masa abad pertengahan, di mana konsep surga dan neraka, dosa dan pahala, serta konsep kelas sosial seperti borjuis versus proletar, semakin mempertegas pandangan dunia yang terbagi menjadi dua kutub yang sangat jelas.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore