Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Januari 2025, 00.54 WIB

7 Ciri Orang yang Paling Mudah Percaya dengan Hoax di Internet, Menurut Psikologi

7 Ciri Orang yang Paling Mudah Percaya dengan Hoax di Internet./Pexels. - Image

7 Ciri Orang yang Paling Mudah Percaya dengan Hoax di Internet./Pexels.

JawaPos.com - Kita semua pasti pernah menemukan berita palsu di internet, entah itu berupa cerita mengejutkan, klaim bombastis, atau meme yang menggiring opini. Namun, tahukah Anda bahwa ada orang-orang yang lebih rentan mempercayai hoax dibandingkan lainnya?

Menurut psikologi, hal ini bukan sekadar masalah tingkat kecerdasan atau kurangnya informasi, tetapi juga melibatkan faktor-faktor tertentu dalam cara seseorang memproses informasi.

Dilansir dari laman Blog Herald pada Senin (6/1) berikut adalah tujuh ciri orang yang paling mudah percaya dengan hoax di internet.

1. Kurangnya Keterampilan Berpikir Kritis

Orang yang mudah percaya dengan hoax sering kali kurang terlatih dalam berpikir kritis. Ini bukan berarti mereka tidak cerdas, tetapi lebih kepada bagaimana mereka memproses informasi yang diterima.

Misalnya, ketika melihat berita dengan judul sensasional di media sosial, pemikir kritis akan bertanya, “Apakah ini benar? Siapa sumbernya? Apa bukti yang mendukungnya?”

Sebaliknya, tanpa keterampilan ini, seseorang cenderung langsung menerima informasi tanpa memverifikasi kebenarannya. Masalah ini kerap muncul karena kurangnya pendidikan tentang bagaimana mengevaluasi informasi secara kritis.

2. Preferensi untuk Validasi Sosial

Manusia adalah makhluk sosial, dan kebutuhan akan penerimaan sering kali lebih kuat daripada logika. Orang yang terlalu peduli pada pandangan kelompok sosialnya mungkin cenderung mempercayai informasi yang sejalan dengan opini mayoritas di lingkarannya.

Bias konformitas ini membuat seseorang menerima hoax hanya karena teman-temannya juga mempercayainya.

Dalam konteks media sosial, jika sebuah berita palsu populer di grup WhatsApp atau komunitas online, orang cenderung ikut menyebarkannya tanpa memeriksa keabsahannya.

Validasi sosial ini memang menenangkan, tetapi sering kali mengalahkan kebutuhan untuk memastikan fakta.

3. Responsivitas Emosional yang Tinggi

Emosi memainkan peran besar dalam membuat kita rentan terhadap hoax. Banyak berita palsu di internet dirancang untuk memancing respons emosional yang kuat, entah itu rasa takut, marah, atau simpati.

Misalnya, berita yang mengklaim "konspirasi besar" atau cerita menyentuh tentang seseorang yang membutuhkan bantuan sering kali membuat orang langsung percaya dan membagikannya tanpa berpikir panjang.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore