
Ilustrasi silent treatment (diana.grytsku/freepik.com)
JawaPos.com - Silent treatment merupakan bentuk manipulasi yang halus namun sangat efektif. Dengan sengaja mengabaikan seseorang, pelaku dapat menimbulkan kerusakan emosional yang signifikan pada korban. Korban mungkin mengalami berbagai macam emosi negatif, seperti kecemasan, depresi, dan rasa tidak percaya diri.
Selain itu, silent treatment juga dapat merusak hubungan interpersonal dan membuat korban sulit dalam membangun kepercayaan dengan orang lain. Pelaku silent treatment seringkali menyangkal bahwa tindakan mereka merugikan orang lain.
Mereka mungkin merasa perlu waktu tenang atau menyalahkan korban, tetapi alasan-alasan tersebut tidak membenarkan tindakan menyakitkan mereka.
Dikutip dari medicalnewstoday.com, berikut ini beberapa cara menghadapi orang yang silent treatment dengan benar agar tidak memperburuk konflik.
1. Sebutkan situasinya
Mengakui ketika seseorang memakai perlakuan diam-diam atau sikap menghindar sangat penting dalam membangun komunikasi yang sehat. Sebagai contoh, seseorang bisa mengungkapkan, “Saya perhatikan kamu tidak merespons saya,” yang secara langsung mengidentifikasi masalah dalam interaksi tersebut.
Pernyataan ini membuka kesempatan bagi kedua belah pihak berbicara tentang apa yang terjadi, dan dengan cara ini, mereka dapat mulai memahami satu sama lain dengan lebih baik. Hal ini memungkinkan mereka mengatasi ketegangan yang ada dan berinteraksi dengan cara yang lebih efektif dan konstruktif, menciptakan suasana yang lebih terbuka dan saling mendukung.
2. Pakai pernyataan “aku”
Menerapkan pernyataan "aku" dalam komunikasi sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan latihan dan kesadaran diri supaya dapat mengungkapkan perasaan kita dengan jujur dan tanpa menyalahkan orang lain.
Namun, dengan melakukannya maka manfaatnya sangat besar. Dengan menggunakan pernyataan "aku", kita bisa membangun hubungan yang lebih kuat, menyelesaikan konflik dengan lebih efektif, dan meningkatkan kesejahteraan emosional kita.
3. Akui perasaan orang lain
Ajak orang lain mengungkapkan perasaannya, sehingga mereka merasa bahwa perasaan mereka dihargai dan valid. Ini membuka peluang untuk percakapan yang lebih terbuka. Hindari bersikap defensif atau langsung mencari solusi. Fokuslah hadir dan mendengarkan dengan penuh empati.
Jika orang tersebut merespons dengan cara yang agresif atau mengancam, maka kamu perlu untuk menjauh dari situasi tersebut hingga mereka tenang. Cari dukungan dari dokter, terapis, atau teman tepercaya guna memperoleh bantuan.
4. Minta maaf atas kata-kata atau tindakan
Seseorang tidak perlu meminta maaf atau menyalahkan diri sendiri atas perlakuan diam yang dilakukan oleh orang lain sebab sikap diam tersebut adalah cara orang tersebut memilih untuk merespons suatu situasi.
