
Bertengkar. (pexels.com)
JawaPos.com - Hubungan antara saudara kandung sering kali menjadi cerita yang penuh warna. Ada yang seperti duet harmonis, tetapi tak jarang ada juga yang lebih mirip konser rock n’ roll dengan nada sumbang di sana-sini.
Jika Anda merasa hubungan Anda dengan saudara kandung cenderung penuh konflik atau bahkan dingin, mungkin itu bukan hanya kebetulan. Ada kemungkinan bahwa pengalaman di masa kecil Anda telah membentuk pola tersebut.
Dilansir dari laman Baselinemag.com pada Minggu (5/1), berikut adalah tujuh pengalaman yang sering kali menjadi akar dari hubungan yang tidak akur antara saudara kandung.
Tidak bisa dipungkiri, pilih kasih adalah luka yang sulit disembuhkan. Ketika satu anak diperlakukan lebih istimewa dibandingkan yang lain, pesan yang tersirat sangat jelas: “Dia lebih penting daripada kamu.”
Anak yang diistimewakan mungkin tumbuh dengan rasa bersalah karena selalu menjadi "yang spesial," sedangkan anak yang diabaikan sering merasa tidak cukup baik atau bahkan marah.
Akibatnya, hubungan antara saudara kandung jadi penuh ketegangan. Pilih kasih bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan mainan lebih mahal, tetapi lebih kepada rasa dihargai dan dicintai secara setara.
Jika Anda dan saudara kandung pernah merasakan situasi ini, bukan hal yang aneh jika hubungan Anda tidak terlalu harmonis hingga kini.
Persaingan antar saudara kandung adalah hal yang wajar, tapi jika dibiarkan berlarut-larut, bisa menjadi bom waktu. Ketika kecil, mungkin Anda berdebat tentang siapa yang lebih pintar, siapa yang mendapat perhatian lebih dari orang tua, atau siapa yang memenangkan permainan keluarga.
Namun, sering kali persaingan ini tidak berhenti di situ. Saat dewasa, persaingan berkembang menjadi hal yang lebih serius, seperti pekerjaan, pendapatan, atau gaya hidup.
Persaingan seperti ini menanamkan kebiasaan melihat saudara kandung sebagai "lawan," bukan rekan, yang pada akhirnya memperumit hubungan.
Perbedaan usia yang besar juga bisa menjadi tantangan dalam membangun hubungan saudara kandung yang akrab. Anak yang lebih tua sering kali diberi tanggung jawab sebagai pengasuh bagi adik-adiknya.
Sebaliknya, anak yang lebih muda mungkin merasa tidak pernah benar-benar setara atau merasa "ditinggalkan" dalam pengalaman saudara yang lebih tua.
Ketidakseimbangan ini sering kali menciptakan jarak emosional, yang bisa bertahan hingga dewasa. Tanpa pengalaman bersama yang cukup, sulit bagi kedua belah pihak untuk membangun ikatan yang dalam.
Konflik adalah hal yang wajar dalam hubungan apa pun, termasuk antara saudara kandung. Namun, bagaimana konflik diselesaikan di masa kecil sangat memengaruhi hubungan di kemudian hari.
Jika konflik sering kali dibiarkan tanpa penyelesaian atau diselesaikan dengan cara yang tidak sehat, seperti teriakan atau pertengkaran fisik, saudara kandung cenderung membawa pola tersebut hingga dewasa.
