
Ilustrasi hidangan sup tomat yang menjadi comfort food. (freepik)
JawaPos.com - Di tengah hiruk pikuk kehidupan, seringkali kita mencari pelarian sejenak, sebuah oase di tengah gurun stres.
Tak jarang, pelarian itu ditemukan dalam semangkuk bakso hangat, sepiring nasi goreng yang mengepul, atau sepotong kue cokelat yang lumer di mulut.
Makanan-makanan sederhana ini, yang sering kita sebut comfort food, bukan sekadar pengisi perut, melainkan juga penenang jiwa. Makanan tersebut membawa kehangatan, nostalgia, dan rasa bahagia yang sulit diungkapkan.
Pada dasarnya manusia makan untuk hidup. Namun, makanan lebih dari sekadar itu.
Makanan merupakan bagian penting dari keluarga, budaya dan identitas. Kita berbagi makanan untuk merayakan, berkomunikasi, dan memberikan hiburan.
Memori dan Rasa sebuah Jalinan Psikologis
Melansir dari Bolt.eu, fenomena comfort food lebih dari sekadar preferensi rasa. Makanan yang berakar kuat pada psikologis seseorang melibatkan jalinan kompleks memori, emosi, dan kebutuhan akan rasa aman.
Comfort food memberikan perasaan positif yang muncul ketika kita memakannya. Setiap negara dan budaya memiliki comfort food-nya, beberapa dikenal secara signifikan bagi individu atau keluarga.
Bentuknya bisa berupa hidangan khusus dari perayaan keluarga, atau makanan rumahan yang disantap saat sakit atau sedih.
Aroma makanan tersebut bahkan dapat membangkitkan emosi, terutama jika mengingatkan kita pada masa kecil.
Seperti aroma kue kering yang dipanggang di rumah nenek, seketika ingatan masa kecil yang penuh tawa dan kebersamaan hadir kembali.
Atau rasa sup ayam buatan ibu saat kita sakit, rasa hangatnya bukan hanya di tenggorokan, tetapi juga di hati. Sebab, perasaan kasih sayang dan perhatian tulus dari ibu.
