
ilustrasi seseorang yang memprivate media sosial. (freepik)
JawaPos.com – Penggunaan media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa. Namun, di balik kemudahan akses dan konektivitas, media sosial juga membawa potensi dampak negatif terhadap kesehatan mental.
Media sosial memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam rasa senang dan motivasi. Aktivitas ini memberikan "reward instan" yang menciptakan sensasi adiktif.
Namun, paparan berulang terhadap dopamin dari media sosial dapat menyebabkan defisit dopamin. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan otak akan stimulasi lebih tinggi untuk merasa baik, yang pada akhirnya memengaruhi konsentrasi dan kesejahteraan emosional.
Untuk diketahui, mahasiswa yang ketergantungan dengan media sosial berpotensi mengalami dampak negatif. Yaitu,
1. Gangguan Konsentrasi
Stimulasi instan dari media sosial membuat mahasiswa kesulitan untuk fokus pada tugas akademik.
Kecemasan dan iritabilitas muncul saat tidak dapat mengakses media sosial, menunjukkan adanya ketergantungan psikologis.
Mahasiswa mungkin lebih memilih interaksi digital daripada tatap muka, yang dapat mengisolasi mereka secara sosial.
Standar yang tidak realistis di media sosial memicu perasaan rendah diri, kecemasan, bahkan depresi akibat tekanan untuk tampil sempurna.
Mengatur waktu penggunaan media sosial dapat membantu mengurangi paparan berlebihan. Gunakan aplikasi pengatur waktu jika perlu.
Libatkan diri dalam kegiatan seperti:
Praktik mindfulness membantu mengelola dorongan untuk terus-menerus memeriksa media sosial. Teknik ini juga meningkatkan kesadaran diri dan keseimbangan emosi.
Temukan hobi atau minat baru di luar dunia digital. Hal ini dapat membantu mahasiswa merasa lebih puas dan percaya diri tanpa bergantung pada validasi eksternal.
Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional dapat memberikan perspektif baru dan mengurangi beban emosional.
Media sosial menawarkan kemudahan, tetapi juga membawa tantangan besar bagi kesehatan mental. Mahasiswa perlu menyadari dampak negatif yang mungkin timbul dan mengambil langkah-langkah untuk mengelolanya.
