
Ilustrasi mie instan (sumber: Pixabay)
JawaPos.com – Mie instan tidak diragukan lagi merupakan makanan favorit bagi segala kalangan warga Asia khususnya di Indonesia. Tak ada keraguan bahwa mie instan memang lezat dan nyaman, namun nilai gizinya patut untuk dikaji lebih dalam lagi.
Kandungan gizi mie instan ini perlu diperhatikan kembali untuk menentukan apakah secara mutlak berbahaya bagi tubuh atau ada ketentuan khusus lainnya sebelum mengonsumsinya. Dilansir dari Healthline, meskipun informasi nutrisi antar produk berbeda-beda, sebagian besar mie instan rendah kalori, tetapi kekurangan nutrisi penting.
Misalnya, satu porsi mie instan rasa ayam mengandung kalori: 188, karbohidrat: 27 gram, lemak total: 7 gram, protein: 5 gram, serat: 1 gram, natrium: 891 mg, tiamin: 16 persen dari Referensi Asupan Harian (RDI), folat: 13 persen dari RDI, mangan: 10 persen dari RDI, besi: 9 persen dari RDI, niasin: 9 persen dari RDI, riboflavin: 6 persen dari RDI. Umumnya, mie instan dibuat dari tepung terigu yang telah diperkaya dengan nutrisi tertentu dalam bentuk sintetis seperti zat besi dan vitamin B untuk membuat mie lebih bergizi.
Namun, mereka kekurangan banyak nutrisi penting, termasuk protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, dan potasium.
Tidak seperti makanan utuh dan segar, makanan kemasan seperti mie instan kekurangan antioksidan dan fitokimia yang berdampak positif pada kesehatan dalam banyak hal. Belum lagi, mereka mengandung banyak kalori tanpa beragam nutrisi yang seharusnya terkandung dalam makanan seimbang yang terdiri dari protein, sayuran, dan karbohidrat kompleks.
Meski satu porsi (43 gram) mie Instan hanya memiliki 188 kalori, kebanyakan orang mengkonsumsi satu bungkus mie Instan utuh, yang setara dengan dua porsi dengan 371 kalori. Perlu diketahui bahwa mie instan berbeda dengan mie ramen segar, yaitu mie tradisional Tiongkok atau Jepang yang biasanya disajikan dalam bentuk sup dan di atasnya diberi bahan bergizi seperti telur, daging bebek, dan sayuran.
Natrium adalah mineral yang penting untuk berfungsinya tubuh kita, mie instan merupakan makanan dengan kandungan natrium yang cukup tinggi. Terlalu banyak natrium dari kelebihan garam dalam makanan tidak baik untuk kesehatan kita.
Kurangnya konsumsi natrium telah dikaitkan dengan efek buruk, namun mengkonsumsi terlalu banyak natrium juga dapat berdampak negatif terhadap kesehatan. Misalnya, pola makan tinggi garam telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker perut, penyakit jantung, dan stroke.
Terlebih lagi, pada orang-orang tertentu yang dianggap sensitif terhadap garam, pola makan tinggi natrium dapat meningkatkan tekanan darah, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung dan ginjal.
Meski ada perdebatan mengenai validitas rekomendasi asupan dua gram natrium per hari yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun tetap jelas bahwa membatasi makanan yang sangat tinggi garam adalah yang terbaik. Mie instan mengandung natrium yang sangat tinggi, dengan satu kemasan mengandung 1.760 mg natrium, atau 88 persen dari rekomendasi 2 gram yang disarankan WHO.
Mengonsumsi hanya satu paket mie instan per hari akan membuat sangat sulit untuk menjaga asupan natrium mendekati anjuran diet yang ditetapkan WHO. Namun, karena mie Instan murah dan cepat disiapkan, mie instan merupakan makanan yang mudah diandalkan oleh orang-orang yang tidak punya banyak waktu. Kemungkinan besar banyak orang mengonsumsi Instan beberapa kali sehari yang menyebabkan konsumsi natrium dalam jumlah besar.
Butylhydroquinone tersier atau lebih dikenal sebagai TBHQ adalah bahan umum dalam mie instan. Ini adalah bahan pengawet yang digunakan untuk memperpanjang umur simpan dan mencegah pembusukan makanan olahan. Meski TBHQ dianggap aman dalam dosis yang sangat kecil, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa paparan kronis terhadap TBHQ dapat menyebabkan kerusakan saraf, meningkatkan risiko limfoma, dan menyebabkan pembesaran hati.
Ditambah lagi, beberapa orang yang terpapar TBHQ pernah mengalami gangguan penglihatan, dan penelitian menunjukkan bahwa bahan pengawet ini dapat merusak DNA. Bahan lainnya yang ditemukan di sebagian besar merek mie instan adalah monosodium glutamat (MSG). Ini adalah bahan tambahan yang digunakan untuk meningkatkan rasa makanan gurih dan membuatnya lebih enak.
Orang-orang tertentu mungkin lebih sensitif terhadap MSG dibandingkan orang lain. Konsumsi bahan pengawet ini telah dikaitkan dengan gejala seperti sakit kepala, mual, tekanan darah tinggi, kelemahan, ketegangan otot dan kemerahan pada kulit.
Kendati bahan-bahan ini telah dikaitkan dengan beberapa efek buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam dosis besar, jumlah kecil yang ditemukan dalam makanan kemungkinan besar aman jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Namun, mereka yang sangat sensitif terhadap bahan tambahan seperti MSG mungkin ingin menghindari mie ramen instan, serta makanan olahan lainnya.
