JawaPos.com - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional layanan pasca kecelakaan yang dialami tiga armadanya dalam sebulan terakhir. Transjakarta pun menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam evaluasi ini.
Evaluasi juga melibatkan 2 operator yang bekerja sama dengan Transjakarta, yaitu Damri dan Steady Safe. Audiensi dilakukan jajaran Direksi dan manajemen Transjakarta, di kantor KNKT Jakarta Pusat, Senin (22/9).
Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza mengatakan, perusahaan komitmen menjaga keselamatan penumpang. Pelibatan pihak eksternal diharapkan bisa membuat evaluasi maksimal.
"Keselamatan adalah prioritas utama kami. Kami menggandeng KNKT karena keahlian dan independensi mereka dalam melakukan investigasi kecelakaan," ujar Welfizon.
Kerja sama ini mencakup investigasi mendalam terhadap penyebab dari setiap kecelakaan, baik yang berhubungan dengan faktor manusia (SDM), prosedur operasional, maupun teknis armada. Hasil dari investigasi ini akan menjadi dasar bagi Transjakarta untuk merumuskan perbaikan sistem secara komprehensif.
"Kami menyadari adanya kebutuhan untuk perbaikan di berbagai aspek. Oleh karena itu, kami akan bekerja sama erat dengan KNKT seperti yang sebelumnya pernah kami lakukan, untuk mengidentifikasi area-area yang perlu perbaikan," tambah Welfizon.
Diketahui, Transjakarta tercatat mengalami tiga kecelakaan beruntun yang menyita perhatian publik sepanjang bulan ini.
Kecelakaan pertama terjadi pada 6 September, ketika bus TJ menabrak sebuah toko di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Tak lama berselang, pada 18 September, insiden kedua kembali terjadi. Kali ini, bus TJ adu banteng dengan sebuah truk di Jalan Cideng Timur, arah Harmoni, Jakarta Pusat.
Kecelakaan ketiga menyusul pada Jumat, 19 September. Bus TJ menabrak motor, mobil, hingga ruko di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur. Dalam peristiwa ini, beberapa orang mengalami luka-luka. Beruntung, tidak ada korban jiwa.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya tidak hanya mendalami penyebab kecelakaan pada bulan ini. Tapi juga terkait tren jumlah kecelakaan bus Transjakarta dari tahun ketahun.
"Hal ini semua sedang kita diskusikan," ungkapnya.