
PM Israel Benjamin Netanyahu. (Facebook/CGTN Frontline)
JawaPos.com - Kontroversi pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan menjadi sorotan global. Pernyataan tersebut kini berbuntut panjang.
Berikut kronologi lengkap dari awal pernyataan hingga klarifikasi yang disampaikannya:
Pada Kamis malam (19/3) Netanyahu menyampaikan pidato yang disiarkan televisi. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa dalam sejarah, kekuatan sering kali mengalahkan moralitas.
“Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan dibandingkan Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup tanpa belas kasihan, cukup berkuasa, maka kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi,” ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pandangannya soal kekuatan dan pertahanan menghadapi ancaman.
Tak lama setelah pidato tersebut, potongan video pernyataan Netanyahu menyebar luas di media sosial. Banyak pihak menilai ucapannya sebagai penghinaan terhadap Yesus, yang dihormati sebagai simbol perdamaian.
Gelombang kritik pun bermunculan, terutama dari kalangan umat Kristen dan warganet yang menganggap perbandingan tersebut tidak pantas.
Sejumlah tokoh dan pengguna media sosial mengecam keras pernyataan itu. Pendeta Lutheran Palestina Munther Isaac menyebutnya sebagai pernyataan yang 'menyinggung dalam banyak aspek'.
Ia menilai ucapan tersebut tidak hanya membandingkan dua tokoh yang sangat berbeda, tetapi juga menyiratkan bahwa pendekatan moral ala Yesus dianggap lemah dibanding kekuatan.
Sehari setelah kontroversi mencuat, Netanyahu memberikan klarifikasi melalui media sosial. Ia membantah bahwa dirinya bermaksud menghina Yesus Kristus.
“Lebih banyak berita palsu tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Saya tegaskan: saya tidak merendahkan Yesus Kristus,” tulisnya.
Ia menjelaskan bahwa pernyataannya mengutip pandangan sejarawan Will Durant, yang menilai bahwa moralitas saja tidak cukup tanpa kekuatan untuk mempertahankan diri.
“Peradaban yang secara moral lebih unggul tetap bisa jatuh jika tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh yang kejam. Tidak ada maksud untuk menyinggung,” ujarnya.
Meski klarifikasi telah disampaikan, polemik belum mereda. Perdebatan terus berlangsung di ruang publik, memperlihatkan sensitivitas isu agama ketika dikaitkan dengan narasi kekuatan dan konflik.
