
BERMAIN DAN BELAJAR: Anak-anak homeschooling bermain bersama di Taman Harmoni, Keputih, pekan lalu.
JawaPos.com - Seduluran Homeschooling Surabaya dibentuk pada Desember 2016. Komunitas itu bermula dari dua keluarga yang menerapkan homeschooling di rumah. Merasa senasib, mereka kemudian intens bertemu. Mereka saling berbagi tips dalam mendidik anak di rumah.
"Lalu, kami putuskan untuk mendirikan komunitas ini,” ucap Lyly Freshty saat berbincang dengan Jawa Pos pekan lalu. Dia ingin menjadikan komunitas sebagai wadah bagi praktisi dan peminat homeschooling. Dengan demikian, mereka bisa saling belajar dan mendukung dalam menerapkan pendidikan berbasis keluarga.
Komunitas, menurut dia, perlu dibentuk sebagai support group. Terutama bagi keluarga baru yang ingin menjajal homeschooling. Sebab, tantangan mendidik anak berbasis keluarga juga tidak ringan. Apalagi, memilih jalur homeschooling sering dianggap aneh oleh banyak orang.
"Karena saya sendiri pernah berada di posisi serupa,” papar alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu. Jalur homeschooling tidak sama dengan pendidikan umum atau sekolah reguler. Jumlah homeschooler di Indonesia juga masih sedikit. Maka, butuh penguatan melalui komunitas agar bisa saling berkolaborasi dan menghadapi berbagai tantangan yang esensial. Misalnya, basis pemikiran, pengetahuan, dan kebijakan pendidikan.
Bermula dari dua keluarga, kini komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya beranggota 12 keluarga. Mereka rutin menggelar pertemuan dua mingguan. "Selain anggota aktif, ada saja keluarga yang datang ke komunitas kami,” jelasnya. Ada yang datang, sharing, dan bergabung. Tetapi, ada juga yang pergi. Entah pindah domisili, beralih pilihan ke sekolah formal, atau merasa tidak cocok dengan komunitas. Menurut Lyly, hal itu wajar.
PANAS: Anak-anak mengamati proses pembakaran daun kering dengan menggunakan lensa pembesar.
"Yang penting, kawan-kawan yang bertahan sangat paham perlunya tetap menghidupi dan menguatkan komunitas ini,” tuturnya.
Selain kumpul rutin dua mingguan, komunitas menggelar Pop Up Homeschooling Expo di beberapa ruang publik di Surabaya. "Tujuannya, mengenalkan dan menunjukkan homeschooling kepada masyarakat,” paparnya.
Saat ini, terutama sejak pandemi, keluarga yang berniat menjadi homeschooler semakin banyak. Pola belajar dari rumah selama pandemi membuka mata banyak pihak bahwa pendidikan dari rumah juga pilihan yang baik.
Homeschooling sudah tidak "sesepi” dan "seaneh” dulu, sebelum pandemi. (elo/c7/hep)
