
JAGA KONDISI: Ada tiga kunci jaga kondisi di bulan Ramadhan untuk atlet profesional menurut FIFPRO, seperti nutrisi, hidrasi, dan tidur oleh Prof Dr Vincent Gouttebarge, Chief Medical Officer FIFPRO.
JawaPos.com — Menjaga kebugaran tubuh selama Ramadan adalah tantangan bagi banyak pemain sepak bola Muslim di seluruh dunia. Dalam menghadapi bulan suci ini, para pemain perlu memperhatikan beberapa faktor penting agar tetap dapat performa maksimal di lapangan.
Prof Dr Vincent Gouttebarge, Chief Medical Officer FIFPRO yang juga seorang mantan pemain profesional, memberikan pandangan dan tips berharga untuk membantu para pemain menghadapi tantangan ini.
Nutrisi menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan oleh para pemain sepak bola yang menjalani puasa Ramadan. Dengan perubahan pola makan menjadi dua kali sehari, pemain perlu memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi mengandung energi yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan berlatih di lapangan.
Konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi sebelum waktu imsak dan makanan dengan indeks glikemik rendah setelah berbuka dapat membantu menjaga kadar energi tubuh.
“Para atlet biasanya membutuhkan setidaknya tiga kali makan yang layak sehari untuk berlatih dan berkompetisi di level tinggi, dan tentu saja ada peralihan ke dua kali makan bagi para pemain saat Ramadan, dengan porsi makan terbesar adalah sebelum matahari terbit sehingga mereka dapat terus berlari sepanjang hari,” jelasnya dikutip dari laman resmi FIFPRO.
“Idealnya, makanan tersebut harus mengandung makanan tinggi glikemik – seperti kentang dan nasi – yang kaya energi, sedangkan makan setelah matahari terbenam harus makanan dengan glikemik rendah. Suplemen juga dapat dipertimbangkan tetapi harus berkonsultasi dengan dokter klub," imbuhnya.
Selain nutrisi, hidrasi juga menjadi faktor kunci yang perlu diperhatikan selama bulan Ramadhan. Para pemain disarankan untuk tetap menjaga hidrasi tubuh seoptimal mungkin, meskipun sulit untuk minum selama berpuasa. Strategi pendinginan seperti handuk basah dan berkumur dengan air dapat membantu mengurangi kehilangan cairan tubuh akibat keringat. Suplementasi sodium juga perlu dipertimbangkan untuk menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
“Hidrasi bisa jadi rumit, dan kami menyarankan para pemain untuk tetap terhidrasi pada siang dan malam hari seoptimal mungkin. Tentu saja tidak selalu mungkin untuk tetap terhidrasi pada malam hari, jadi yang terpenting adalah menemukan keseimbangan antara hidrasi teratur dan minum. Tidur malam yang cukup,” paparnya.
“Strategi pendinginan dapat diterapkan untuk menghentikan kehilangan cairan melalui keringat, seperti handuk dingin dan berkumur dengan air, sementara mandi air dingin pasca sesi juga dapat membantu mengurangi kehilangan cairan. Suplemen natrium juga harus dipertimbangkan, seperti menghindari kopi dan teh," terangnya.
Tidak kalah pentingnya adalah menjaga pola tidur selama bulan Ramadan. Perubahan jadwal biologis tubuh selama bulan puasa dapat memengaruhi kualitas tidur para pemain. Oleh karena itu, penting bagi para pemain untuk mengatur jadwal tidur yang optimal agar tubuh mendapatkan istirahat yang cukup untuk pemulihan.
“Selama bulan Ramadan, tubuh pemain perlu beradaptasi dengan jadwal biologis yang berubah. Oleh karena itu, gangguan tidur mungkin memiliki dampak terbesar pada pemain. Jam kronologis Anda berbeda dari biasanya, dan ditambah dengan kekurangan nutrisi. dan hidrasi di siang hari, hal ini dapat menjadi tantangan untuk dilakukan," tukasnya.
Namun, apakah ada manfaat atau risiko terkait dengan puasa selama musim kompetisi? Menurut Prof Dr Gouttebarge, secara fisiologis, puasa tidak memberikan manfaat tambahan dalam meningkatkan performa atlet. Namun, secara mental, puasa dapat memberikan motivasi tambahan bagi para pemain untuk tampil lebih baik di lapangan.
Meskipun demikian, belum ada penelitian medis yang memberikan bukti yang jelas tentang hubungan antara puasa Ramadan dan risiko cedera. Oleh karena itu, para pemain dan staf harus tetap berhati-hati selama periode ini.
Untuk membantu para pemain yang menjalani puasa Ramadan, klub sepak bola dapat memberikan dukungan medis, nutrisi, dan psikologis yang tepat. Para pelatih perlu memahami konsekuensi puasa bagi nutrisi, hidrasi, dan tidur para pemain, serta dapat menyesuaikan jadwal latihan sesuai dengan kondisi tersebut.
Komunikasi antara pemain dan staf pelatih menjadi kunci untuk memastikan strategi yang optimal dan kerja sama yang baik dalam menjaga kesehatan dan performa pemain.
