Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 Januari 2025, 22.08 WIB

Seni Menjalani Slow Living: 7 Kebiasaan yang Perlu Ditinggalkan agar Hidup Lebih Tenang dan Tidak Mudah Stres

Ilustrasi orang yang menjalani slow living. - Image

Ilustrasi orang yang menjalani slow living.

JawaPos.com - Slow living atau hidup lambat merupakan suatu istilah yang akrab di telinga masyarakat, dengan artian menjalani hidup sederhana tanpa perlu berlomba-lomba dengan pencapaian orang lain.

Dikutip dari laman Prudential, slow living ini menganut gaya hidup yang lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Tapi setiap orang berpikir bahwa untuk menerapkan hal tersebut dibarengi dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Namun terlepas dari hal tersebut, dilansir dari laman Global English Editing pada (02/01) ada 7 kebiasaan yang perlu ditinggalkan agar hidup lebih tenang dan tidak mudah stres sehingga terciptanya slow living.

1. Komitmen berlebihan

Mengambil terlalu banyak, mengatakan ya untuk setiap permintaan, dan mengisi kalender kita sampai semuanya penuh. Kebiasaan ini adalah salah satu hambatan terbesar dalam menjalani slow living.

Seni slow living mendorong kita untuk mengevaluasi secara kritis tentang memprioritaskan komitmen kita yang benar-benar penting. Melepaskan komitmen berlebihan memungkinkan kita mengarahkan energi pada hal-hal yang benar-benar memperkaya hidup.

Mungkin sulit pada awalnya, tapi percayalah, ketenangan dan ketentraman itu tidak akan sia-sia. Bahkan kita menjadi lebih fokus pada satu komitmen yang dituju.

2. Menggunakan perangkat digital secara berlebihan

Ponsel selalu penuh notifikasi, email menumpuk, dan update media sosial sepertinya tidak pernah berakhir. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan mental dan ini merupakab sesuatu harus diubah.

Jika kamu merasa kewalahan dengan dunia digital, mungkin inilah saatnya untuk menguranginya. Percayalah, pikiranmu akan berterima kasih karenanya.

3. Multitasking

Multitasking sepertinya merupakan cara yang bagus untuk menyelesaikan banyak hal sekaligus. Tapi pada kenyataannya, ini hanyalah ilusi kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak dirancang untuk menangani banyak tugas sekaligus.

Sebaliknya, ketika kita mengira sedang melakukan banyak tugas, sebenarnya hanya berpindah antar tugas dengan cepat, yang dapat mengurangi produktivitas sebanyak 40%.

Seni slow living mendorong kita untuk fokus pada satu tugas pada satu waktu, membenamkan diri sepenuhnya di dalamnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memungkinkan kita menikmati proses dan menciptakan pekerjaan berkualitas tinggi.

4. Mengabaikan perawatan diri

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore