alexametrics

Sinovac di Jakarta, Johnson & Johnson di LA

18 Juli 2021, 12:25:18 WIB

Bobby Arifin sangat sering bepergian. Dalam setahun, dia sedikitnya enam kali bolak-balik ke luar negeri untuk menyaksikan sekaligus meliput event olahraga kelas wahid. Mulai Formula 1 sampai Liga Basket NBA. Maka, vaksin menjadi tameng pertama kontributor Jawa Pos itu untuk bisa tetap menjalankan kesibukannya.

SAYA termasuk orang yang percaya bahwa virus SARS-CoV-2 yang menjangkitkan Covid-19 itu nyata adanya. Puluhan tahun berkarier di bidang TI (teknologi informasi) membuat saya akrab dengan berbagai macam virus. Yang saya maksud adalah virus perusak sistem kerja komputer.

Maka, ketika virus korona memantik pandemi, tidak perlu nalar yang njelimet bagi saya untuk segera menangkisnya. Apa pun namanya, dari mana pun asalnya, namanya virus pastilah berbahaya.

Saya butuh penangkal virus yang paten untuk melindungi diri saya, keluarga, dan orang-orang di sekitar saya. Begitu Amerika Serikat (AS) meluncurkan vaksin Pfizer dan Moderna, saya langsung mempelajari prosedur untuk mendapatkannya. Saya bergerilya mulai akhir Desember 2020. Semua teman di AS –baik dokter dan tenaga kesehatan maupun yang bukan– saya hubungi. Nihil. Di sana, dua jenis vaksin itu hanya tersedia untuk warga negara Amerika.

Bersamaan dengan itu, kabar baik tersiar di tanah air. Karena sudah masuk kategori lanjut usia (lansia), saya mendapatkan prioritas vaksin. Syukurlah! Tapi, waktu itu ternyata mendaftarnya harus muter-muter. Apesnya, sampai mumet pun saya nggak kebagian.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c13/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads