
Sutradara sekaligus produser Personal Presistence Xing Xao. (Istimewa)
JawaPos.com–Pameran Film Tiongkok 2025 resmi berakhir setelah tiga hari diselenggarakan. Sebagai penutup, event tersebut menyajikan dua film pamungkas asal Tingkok, yakni Personal Persistence yang disutradarai Xing Xao dan animasi Into the Mortal World.
Xing Xao mengaku bahagia sekaligus tidak menyangka karyanya mendapat sambutan hangat dari penikmat film Indonesia. ”Saya senang karena yang hadir nonton nggak cuma anak muda, tapi ada yang usia 40 ke atas,” ucap Xing Xao di kawasan Jakarta Pusat.
Film Personal Presistence mengangkat cerita tentang seorang pria Han bernama Zhong Ken yang bercita-cita menjadi penyanyi kisah Raja Gesar. Namun, perjalanan hidup yang sedang dan sudah dilalui membuat Zhong Ken belajar menerima kenyataan. Dan melepaskan obsesinya.
Film tersebut mengambil latar lokasi di wilayah Tibet. ”Syutingnya di atas ketinggian 4.000 mdpl. Syutingnya sampai 10 jam, tapi hasilnya kadang cuma sedikit,” kenang Xing Xao.
Tantangan yang dihadapi selama proses produksi tentu tidak sedikit. Selain dihadapkan dengan berbagai masalah teknis, para kru dan pemain juga mesti pandai menjaga kondisi tubuh dengan cuaca dingin.
”Tantangannya besar karena kami harus membiasakan diri syuting di ketinggian,” jelas Xing Xao.
Lewat film Personal Presistence, Xing Xao ingin menyampaikan pesan untuk menikmati apa yang sudah dimiliki. Sementara film animasi Into the Mortal World yang sudah tayang pada 6 September 2024.
Film tersebut diproduksi Winsing Animation yang berkolaborasi dengan Blibli dan Alibaba Pictures. Disutradari Zhong Ding dan skenarionya ditulis Kang Fu.
Menariknya, film tersebut terinspirasi dari cerita legendaris Tiongkok berjudul Gembala Sapi dan Gadis Penenun. Proses produksinya pun memakan waktu selama 5 tahun dengan melibatkan 2 ribu animator.
Mengisahkan tentang Jinfen, anak dari pasangan gembala sapi dan gadis penenun. Suatu ketika sang ibu diusir dari khayangan karena dituduh telah melakukan kejahatan.
Jinfeng pun akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia mengumpulkan 28 roh demi menebus dosa ibunya. Dalam petualangannya, dia bertemu Fanning, gadis periang dengan masa lalu misterus yang akhirnya menjadi teman perjalanan mengumpulkan roh.
Pameran Film Tiongkok 2025 digelar bukan hanya sekadar untuk merayakan pesta perfilman. Namun, juga untuk menyambut tahun baru Imlek sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Tiongkok-Indonesia.
Acara tersebut digelar selama tiga hari pada 14-16 Januari di Cinepolis Senayan Park, Jakarta Pusat. Total ada lima film yang disajikan. Di antaranya Her Story, Gold of Shit, dan Kuosang’s Family.
”Kami berharap lima film yang diputar dapat dinikmati dan membawa pesan seni berkualitas. Juga meninggalkan memori baik,” Cultural Counselor of the Chinese Embassy in Indonesia Wang Siping.
